Rabu, 04 Januari 2012

ASKEB III PETUNJUK ANTISIPASI (ANTICIPATORY GUIDANCE)


MAKALAH
PETUNJUK ANTISIPASI
(ANTICIPATORY GUIDANCE)





Disusun oleh :
Arfiani Nur Fatikh                                (R0310004)
Devi Sukamto                       (R0310011)
Irfi Ulismas                            (R0310017)
Rizka Agnes Kusumasari  (R0310032)
Wuri Romanita                     (R0310039)
Yuli Lutfatul Fajriyah           (R0310040)

D III KEBIDANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011/2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah sebagai tugas mata kuliah Promosi Kesehatan dengan judul ”Petunjuk Antisipasi (Anticipatory Guidance)”.
   Pada makalah ini terdapat penjelasan tentang Anticipatory Guidance, Deteksi Dini Komplikasi pada Ibu Masa Nifas, Health Education, Pelaksanaan Asuhan Kebidanan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Askeb 3. Dalam proses penyusunan laporan penulis menyadari banyak pihak yang telah memberikan bantuan, sehingga dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih.
   Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan laporan ini sangat penulis harapkan.
   Akhirnya dengan terselesainya penyusunan makalah ini maka penulis mengharap semoga dapat memberi manfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan.

Surakarta,   November 2011


                                                                                       Penulis







MOTTO

  • Tidak ada orang yang bisa mengangkatmu menjadi orang sukses kecuali dirimu.
  • Saat yang paling membahagiakan adalah ketika mempunyai tanggung jawab dan mampu menyelesaikan tanggung jawab itu.
  • Satu-satunya kebaikan adalah pengetahuan dan satu-satunya kejahatan adalah kebodohan.
  • Sabar, percaya diri, serta lakukan sesuatu yang baik dan benar, itulah kiat menggapai sukses.














DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……………………………………………..................
i
KATA PENGANTAR …………………………………………....................
ii
MOTTO …………………………………………………………..................
iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………...................
iv
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………….......
1
A.  Latar belakang ..……………………………………….....................
1
B.  Rumusan masalah ………………………………………………….
1
C.  Tujuan ………………………………………………………….......

BAB II PEMBAHASAN......…………………………………………….......
3
A. BATASAN PERILAKU...……………………………......................
3
        B. PERILAKU KESEHATAN........……………………………………
5
       C. DOMAIN PERILAKU…………….…………………………….....
7
        D. PERUBAHAN PERILAKU atau INDIKATORNYA...............
13
        E. MACAM PERUBAHAN PERILAKU..………………………….
15
F. ASPEK SOSIO-PSIKOLOGI PERILAKU.........................................
15
BAB III PENUTUP …………………………………………………………
17
A. Kesimpulan ………………………………………………………....
17
B. Saran ………………………………………………………………...
17
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….
18


BAB 1
PENDAHULUAN
Masa nifas adalah masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari atau beberapa jam setelah lahirnya plasenta dan mencakup 6 minggu bearikutnya. Masa nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama seperti halnya masa haid. Selama masa nifas, tubuh mengeluarkan darah nifas yang mengandung trombosit, sel-sel generatif, sel-sel nekrosis atau sel mati dan sel endometrium sisa.
Ada yang darah nifasnya cepat berhenti, ada pula yang darah nifasnya masih keluar melewati masa 40 hari. Cepat atau lambat, darah nifas harus lancar mengalir keluar. Bila tidak, misal, karena tertutupnya mulut rahim sehingga bisa terjadi infeksi.
Meskipun perdarahan nifas berlangsung singkat, sebaiknya tetap menganggap masa nifas belum selesai. Masa nifas tetap saja sebaiknya berlangsung selama 40 hari, baik ibu yang melahirkan normal atau sesar. Sebab, meskipun gejala nifasnya sudah berlalu, belum tentu rahimnya sudah kembali ke posisi semula.
Dalam masa nifas, alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih seperti ke keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan pendidikan kesehatan / health education seperti personal hygiene, istirahat dan tidur.









BAB II
PEMBAHASAN

7.4.10Anticipatory Guidance
Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak.
Masa Bayi
Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
Pencegahan
a. Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).
b. Kurang O2 : plastic, sarung bantal.
c. Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.
d. Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
e. Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.


A.    Enam Bulan pertama
a. Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal dalam memenuhi kebutuhan bayi.
b. Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap stimulasi dari lingkungan.
c. Support kesenangan orang tua dalam melihat pertumbuhan dan perkembangan bayinya mis : respon tertawa.
d. Menyiapkan orang tua untuk kebutuhan keamanan bayi.
e. Menyiapkan orang tua untuk imunisasi bayi.
f. Menyiapkan orang tua untuk mulai memberi makanan padat pada bayi.
B. Enam Bulan Kedua
a. Menyiapkan orang tua akan adanya “Stranger Anxiety”.
b. Menganjurkan orang tua agar anak dekat kepadanya hindari perpisahan yang lama.
c. Membimbing orang tua agar menerapkan disiplin sehubungan dengan meningkatnya mobilitas bayi.
d. Menganjurkan orang tua menggunakan “Kontak Mata” dari pada hukuman badan sebagai suatu disiplin.
Indikasi kesiapan anak dan orang tua untuk toilet training
-  Kesiapan Anak
1. Fisik
·         Pengontrolan saraf volunter spinkterani dan uretra di usia 18-24 bulan.
·         Mampu untuk tetap kering (menahan BAK) selama 2 jam.
·         Perkembangan ketrampilan motorik kasar : duduk, jongkok, berjalan
·         Perkembangan ketrampilan motorik halus : mampu membuka celana dan berpakaian.
2. Psikologis
·         Mengenai adanya dorongan untuk miksi dan defikasi.
·         Kemampuan berkomunikasi : verbal dan non verbal mengindikasikan dorongan untuk miksi atau defikasi.
·         Kemampuan kognitif : meniru dengan tepat tingkahlaku dan mengikuti pengarahan.
·         Mengekspresikan keinginan untuk menyenangkan orang tua.
·         Mampu duduk atau jongkok diatas toilet 5 – 10 menit tanpa cerewet atau turun.
·         Mengikuti tingkat kesiapan anak.
·         Keinginan untuk meluangkan waktu : perlu kesabaran dan pengertian.
·         Tidak ada stress keluarga atau perubahan seperti : perceraian, pindah rumah, mendapat adik baru atau akan berlibur.
·         Memberi pujian jika anak berhasil
3. Sibling Rivalry
Keluarga mendapat bayi baru : dapat menimbulkan krisis bagi toddler. Toddler tidak membenci atau marah pada bayi, tetapi karena :
a. Perubahan merasa ada saingan.
b. Perhatian ibu terbagi.
c. Kebiasaan rutin menjadi berubah menyebabkan anak bertingkahlaku invantil
Perlu persiapan toddler untuk menerima kehadiran saudara kandungnya mulai  sejak bayi dalam kandungan.

C.     Usia 12-18 bulan
·         Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi adanya perubahan tingkah laku dari toddler.
·         Penyapihan secara bertahap.
·         Adanya jadwal waktu makan yang rutin.
·         Pencegahan bahaya kecelakaan yang potensial terjadi.
·         Perlunya ketentuan-ketentuan/peraturan/aturan disiplin dengan lembut dan cara-cara untuk mengatasi negatifistik dan tempertantrum.
·         Perlunya mainan baru untuk mengembangkan motorik, bahasa, pengetahuan dan ketrampilan social.

D.    Usia 18-24 bulan
·         Menekankan pentingnya persahabatan sebaya dalam bermain.
·         Menekankan pentingnya persiapan anak untuk kehadiran bayi baru.
·         Mendiskusikan kesiapan fisik dan psikologis anak untuk toilet training.
·         Mendiskusikan berkembangnya rasa takut seperti pada kegelapan atau suara keras.
·         Menyiapkan orang tua akan adanya tanda-tanda regresi pada waktu anak mengalami stress.
E.     Usia 24-36 bulan
·         Mendiskusikan kebutuhan anak untuk dilibatkan dalam kegiatan dengan cara meniru.
·         Mendiskusikan pendekatan yang dilakukan dalam toilet training dan sikap menghadapi keadaan-keadaan seperti mengompol atau BAB dicelana.
·         Menekankan keunikan dari proses berfikir toddler mis : melalui bahasa yang digunakan ketidakmampuan melihat kejadian dari perspektif yang lain.
·         Menekankan disiplin harus tetap berstruktur dengan benar dan nyata, ajukan alas an yang rasional, hindari kebingungan dan salah pengertian.
F.      Pra Sekolah
Bimbingan terhadap orang tua selama usia prasekolah
a.       Usia 3 tahun
·         Menganjurka orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam hubungan yang luas
·         Menekan pentingnya batas-batas atau peraturan-peraturan.
·         Mengantisipasi perubahan perilaku yang agresif (menurunkan ketegangan atau tension)
·         Menganjurkan orang tua untuk menawarkan kepada anak alternatif-alternatif pilihan pada saat anak bimbang.
·         Perlunya perhatian ekstra.

b.      Usia 4 tahun
§  Perilaku lebih agresif termasuk aktivitas motorik dan bahasa.
§  Menyiapkan meningkatnya rasa ingin tahu tentang seksual.
§  Menekankan pentingnya batas-batas realistic dari tingkah laku.

c.       Usia 5 tahun
ü  Menyiapkan anak memasuki lingkungan sekolah.
ü  Meyakinkan bahwa usia terseburt periode tenang pada anak

G.    Usia Sekolah
Bimbingan pada orang tua pada usia sekolah.

1. Usia 6 tahun
a. Bantu orang tua untuk memahami kebutuhan mendorong anak berinteraksi dengan temannya.
b. Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama naik sepeda.
c. Siapkan orang tua akan peningkatan inters keluar rumah.
d. Dorong orang tua untuk respek terhadap kebutuhan anak akan privacy dan menyiapkan kamar tidur yang berbeda.

2. Usia 7 – 10 tahun
a. Menekankan untuk mendorong kebutuhan akan kemandirian.
b. Interes beraktivitas di luar rumah.
c. Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita memasuki prapubertas.

3. Usia 11 – 12 tahun
a. Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan tubuh saat pubertas.
b. Anak wanita mengalami pertumbuhan cepat.
c. Sex education yang adekuat dan informasi yang akurat.

H.    Remaja
Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada kepala.
a. Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada negosiasi antara orang tua dengan remaja.
b. Menggunakan alat pengaman yang sesuai.
c. Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.
7.4.11 Deteksi Dini komplikasi pada ibu masa nifas
1.      PERDARAHAN PERVAGINAM
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 cc setelah bersalin didefenisikan sebagai  perdarahan pasca persalinan.
Terdapat beberapa masalah mengenai defenisi ini :
a. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di dalam ember dan di lantai.
b. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar haemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.
c. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan fase persalinan.

2. INFEKSI MASA NIFAS
Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas ke saluran urinary, payudara dan pembedahan merupakan penyebab terjadinya AKI tinggi.
Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu pembengkakan takikardi dan malaise. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek, kemerahan, dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria.
Ibu beresiko terjadi infeksi post partum karena adanya luka pada bekas pelepasan plasenta, laserasi pada saluran genital termasuk episiotomi pada perineum, dinding vagina dan serviks, infeksi post SC yang mungkin terjadi.
• Penyebab infeksi : bakteri endogen dan bakteri eksogen
• Faktor predisposisi : nutrisi yang buruk, defisiensi zat besi, persalinan lama, ruptur membran, episiotomi, SC
• Gejala klinis :
§  Takikardi, 100- 140 bpm
§  Suhu 30-40 derajat celsius
§  Menggigil
§  Nyeri tekan uterus yang meluas secara lateral
§  Peningkatan nyeri setelah melahirkan
§  Subinvolusi
§  Distensi abdomen
§  Lokhea sedikit dan tidak berbau atau banyak, berbau busuk, mengandung darah seropurulen
§  Permulaan 3-5 hari pascapartum, kecuali jika disertai infeksi streptokokus
§  Jumlah sel darah putih meningkat
• Manajemen : ibu harus diisolasi
Infeksi Masa Nifas antara lain:
a.       Vulvitis
§  Infeksi pada bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak
§  Tepi luka menjadi merah dan bengkak
§  Jahitan mudah terlepas
§  Luka yang terbuka menjadi ulkus dan mengeluarkan pus
b.      Vaginitis
·      Infeksi langsung pada luka vagina atau melalui perineum
·      Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan
·      Terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus
c.       Servisitis
ü Biasanya tidak menimbulkan banyak gejala
ü Luka serviks yang datang dan meluas langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium
d.      Endometritis
Ø Jenis infeksi yang paling sering
Ø Jaringan desisua bersama-sama dengan bekuan darahmenjadi nekrotis dan mengeluarkan getah berbau dan terdiri atas keping-keping nekrotis serta cairan.
Ø Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah perdarahan.
3. SAKIT KEPALA, NYERI EPIGASTRIK DAN PENGLIHATAN KABUR
Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur.
Penanganan :
• Jika ibu sadar periksa nadi, tekanan darah, pernafasan.
• Jika ibu tidak bernafas periksa lakukan ventilasi dengan masker dan balon. Lakukan intubasi jika perlu dan jika pernafasan dangkal periksa dan bebaskan jalan nafas dan beri oksigen 4-6 liter per menit.
• Jika pasien tidak sadar/ koma bebaskan jalan nafas, baringkan pada sisi kiri, ukur suhu, periksa apakah ada kaku tengkuk.

4. PEMBENGKAKAN DI WAJAH ATAU EKSTREMITAS
• Periksa adanya varises
• Periksa kemerahan pada betis
• Periksa apakah tulang kering,pergelangan kaki, kaki oedema (perhatikan adanya oedema pitting)

5. DEMAM, MUNTAH, RASA SAKIT WAKTU BERKEMIH
Organisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur E. Coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya (Svanborg-eden, 1982).
Pada masa nifas dini, sensitivitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi periuretra atau hematoma dinding vagina. Setelah melahirkan terutama saat infuse oksitosin dihentikan terjadi diuresis yang disertai peningkatan produksi urine dan distensi kandung kemih
Overdistensi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan air yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih.
Penanganan umum:       
a.       Istirahat baring
b.      Rehidrasi per oral atau infus
c.       Kompres atau kipas untuk menurunkan suhu
d.      Jika ada syok, segera beri pengobatan. Sekalipun tidak jelas gejala syok, harus waspada untuk menilai berkala karena kondisi dapat memburuk dengan cepat.

6. PAYUDARA YANG BERUBAH MENJADI MERAH, PANAS DAN TERASA SAKIT
a. Mastitis
Infeksi pada payudara terjadi akibat:
1)        Invasi jaringan payudara oleh organisme infeksius atau
2)        Adanya cedera payudara yang mungkin di sebabkan memarkarna manipulasi yang kasar, pembesaran payudara, statis air susu ibu dalam duktus.
3)        Pecahnya atau fisura puting susu.

Gejala:
§  Payudara nyeri dan bengkak
§  Merah, meradang
§  1-3 minggu post partum
                               Tanda yang kadang muncul:
·      Bendungan lalu infeksi
·      Umumnya hanya satu sisi
Penanganan:
Ø Penanganan terbaik mastitis adalah pencegahan
Ø Mencuci tangan sabun
Ø Cegah pembesaran dengan menyusui sejak awal
Ø Posisi bayi yang tepat saat menyusui
Ø Gunakan BH yang menyokong, bersih, dan kering
Ø Menghindarkan kontak dekat dengan orang yang diketahui menderita infeksi atau lesi stafilokokus
Jika diduga mastitis, interverensi dini dapat mencegah perburukan:
·      BH yang cukup menyangga tetapi tidak ketat
·      Perhatian cermat saat cuci tangan dan perawatan payudara
·      Kompres hangat pada area terkena
·      Massase area saat menyusui untuk memfasilitasi aliran susu.

b. Abses Payudara
Gejala:
·      Payudara bengkak
·      Merah dan radang
·      Bengkak dan fluktuasi
·      Keluar nanah
Penanganan di tempat rujukan:
Ø Berikan antibiotika
§  Kloksasilin 500 mg per oral 4x sehari selama 10 hari atau
§  Eritromisin 250 mg per oral 3 x sehari selama 10 hari
Ø Drain abses
Ø Berikan paracetamol 500 mg bila perlu
Ø Evaluasi 3 hari

c. Bendungan Payudara
Ø Bendungan berlebihan akibat limfatik dan vena sebelum laktasi
Ø Hal ini bukan disebabkan over distensi saluran sistem laktasi.
Penanganan:
§  Jika ibu menyusui dan bayi tidak menetek:
§  Bantulah memerah air susu dengan tangan dan pompa
§  Jika ibu menyusui dan bayi mampu menetek:
§  Bantu ibu meneteki lebih sering kedua payudara tiap kali meneteki.
§  Berikan penyuluhan cara meneteki yang baik.

Mengurangi nyeri sebelum meneteki
ü Memberikan kompres hangat pada dada sebelum meneteki atau mandi air hangat
ü Pijat punggung dan leher
ü Memeras susu dengan cara manual sebelum meneteki dan basahi putting agar bayi mudah menetek
Mengurangi nyeri setelah meneteki
v Gunakan bebat atau kutang
v Kompres dingin pada dada untuk mengurangi bengkak
v Terapi paracetamol 500 mg per oral
Tidak menyusui
·      Berikan bebat dan kutang ketat
·      Kompres dingin pada dada untuk mengurangi bengkak dan nyeri
·      Hindari pijat atau kompres hangat
·      Lakukan pengeluaran ASI bila terasa penuh dan menggigil
·      Berikan paracetamol 500 mg per oral
·      Evaluasi 3 hari.

7. KEHILANGAN NAFSU MAKAN
Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. Hendaknya lekas berikan minuman hangat, susu, kopi atau teh yang bergula. Apabila ibu menghendaki makanan, berikanlah makanan yang sifatnya ringan walaupun dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalinan, tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya. Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaannya kembali. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyak-banyak nya walaupun ibu menginginkannya. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat, nafsu makan pun terganggu sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang.

8. RASA SAKIT, MERAH, LUNAK DAN PEMBENGKAKAN DI KAKI

Selama masa nifas dapat terbentuk trhombus sementara pada vena-vena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi dan mungkinlebih sering mengalaminya.
Faktor predisposisi :
• Obesitas
• Peningkatan umur meternal dan tingginya paritas
• Riwayat sebelumnya mendukung
• Anestesi dan pembedahan dengan kemungkinan trauma yang lama pada keadaan pembuluh vena.
• Anemia maternal
• Hypotermi dan penyakit jantung
• Endometritis
• Varicostitis

Manifestasi :
• Timbul secara akut
• Timbul rasa nyeri akibat terbakar
• Nyeri tekan permukaan

9. MERASA SEDIH ATAU TIDAK MAMPU MENGASUH SENDIRI BAYINYA ATAU DIRINYA SENDIRI

Pada minggu-minggu awal setelah persalinan kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya seperti merasa sedih, tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya.
Faktor penyebab :
• Kekecewaan emosional yang mengikuti kegiatan bercampur rasa takut yang di alami kebanyakan wanita selama hamil dan melahirkan
• Rasa nyeri pada awal masa nifas
• Kelelahan akibat kurang tidur selama persalinan dan telah melahirkan kebanyakan di rumah sakit
• Kecemasan akan kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit
• Ketakutan akan menjadi tidak menarik lagi
7.4.12 HEALTH  EDUCATION
1. Nutrisi dan Cairan
Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk memenuhi produksi air susu. Ibu nifas dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut:
1.      Mengkonsumsi makanan tambahan, kurang lebih 500 kalori tiap hari
2.      Makan dengan diet gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral
3.      Minum sedikitnya 3 liter setiap hari
4.      Mengkonsumsi tablet besi selama 40 hari post partum
5.      Mengkonsumsi vitamin A 200.000 intra unit
Zat-zat yang dibutuhkan ibu pasca persalinan antara lain:
1.      Kalori
2.      Protein
3.      Kalsium dan vitamin D
4.      Magnesium
5.      Sayuran hijau dan buah
6.      Karbohidrat kompleks
7.      Lemak
8.      Garam
9.      Cairan
10.  Vitamin
11.  Zinc
12.  DHA
A.    Kalori            
Kebutuhan kalori pada masa menyusui sekitar 400-500 kalori. Wanita dewasa memerlukan 1800 kalori per hari. Sebaiknya ibu nifas jangan mengurangi kebutuhan kalori, karena akan mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI rusak.
B.     Protein
Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. Satu protein setara dengan tiga gelas susu, dua butir telur, lima putih telur, 120 gram keju, 1 ¾ gelas yoghurt, 120-140 gram ikan/daging/unggas, 200-240 gram tahu atau 5-6 sendok selai kacang.
C.     Kalsium dan vitamin D
Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Kebutuhan kalsium dan vitamin D didapat dari minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi hari. Konsumsi kalsium pada masa menyusui meningkat menjadi 5 porsi per hari. Satu setara dengan 50-60 gram keju, satu cangkir susu krim, 160 gram ikan salmon, 120 gram ikan sarden, atau 280 gram tahu kalsium.
D.    Magnesium
Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Kebutuhan megnesium didapat pada gandum dan kacang-kacangan.
E.     Sayuran hijau dan buah
Kebutuhan yang diperlukan sedikitnya tiga porsi sehari. satu porsi setara dengan 1/8 semangka, 1/4 mangga, ¾ cangkir brokoli, ½ wortel, ¼-1/2 cangkir sayuran hijau yang telah dimasak, satu tomat.
Selama menyusui, kebutuhan karbohidrat kompleks diperlukan enam porsi per hari. Satu porsi setara dengan ½ cangkir nasi, ¼ cangkir jagung pipil, satu porsi sereal atau oat, satu iris roti dari bijian utuh, ½ kue muffin dari bijian utuh, 2-6 biskuit kering atau crackers, ½ cangkir kacang-kacangan, 2/3 cangkir kacang koro, atau 40 gram mi/pasta dari bijian utuh.
G.    Lemak
Rata-rata kebutuhan lemak dewasa adalah 41/2 porsi lemak (14 gram perporsi) perharinya. Satu porsi lemak sama dengan 80 gram keju, tiga sendok makan kacang tanah atau kenari, empat sendok makan krim, secangkir es krim, ½ buah alpukat, dua sendok makan selai kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, sembilan kentang goreng, dua iris cake, satu sendok makan mayones atau mentega, atau dua sendok makan saus salad.
H.    Garam
Selama periode nifas, hindari konsumsi garam berlebihan. Hindari makanan asin seperti kacang asin, keripik kentang atau acar.
I.       Cairan
Konsumsi cairan sebanyak 8 gelas per hari. Minum sedikitnya 3 liter tiap hari. Kebutuhan akan cairan diperoleh dari air putih, sari buah, susu dan sup.
J.       Vitamin
Kebutuhan vitamin selama menyusui sangat dibutuhkan. Vitamin yang diperlukan antara lain:
1.      Vitamin A yang berguna bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A terdapat dalam telur, hati dan keju. Jumlah yang dibutuhkan adalah 1,300 mcg.
2.      Vitamin B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan fungsi syaraf. Asupan vitamin B6 sebanyak 2,0 mg per hari. Vitamin B6 dapat ditemui di daging, hati, padi-padian, kacang polong dan kentang.
3.      Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat dalam makanan berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum.
K.    Zinc (Seng)
Berfungsi untuk kekebalan tubuh, penyembuhan luka dan pertumbuhan. Kebutuhan Zinc didapat dalam daging, telur dan gandum. Enzim dalam pencernaan dan metabolisme memerlukan seng. Kebutuhan seng setiap hari sekitar 12 mg. Sumber seng terdapat pada seafood, hati dan daging.
L.     DHA
DHA penting untuk perkembangan daya lihat dan mental bayi. Asupan DHA berpengaruh langsung pada kandungan dalam ASI. Sumber DHA ada pada telur, otak, hati dan ikan.
2.                   Hygiene
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal.
Ibu harus tetap bersih, segar dan wangi. Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptik (PK / Dethol) dan selalu diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang.
Jaga kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan maupun kulit.
a.Pakaian
Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat karena produksi keringat menjadi banyak. Produksi keringat yang tinggi berguna untuk menghilangkan ekstra volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di daerah dada sehingga payudara tidak tertekan dan kering. Demikian juga dengan pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya akibat lochea.
b.Kebersihan rambut
Setelah bayi lahir, ibu mungkin akan mengalami kerontokan rambut akibat gangguan perubahan hormon sehingga keadaannya menjadi lebih tipis dibandingkan keadaan normal. Jumlah dan lamanya kerontokan berbeda-beda antara satu wanita dengan wanita yang lain. Meskipun demikian, kebanyakan akan pulih setelah beberapa bulan. Cuci rambut dengan conditioner yang cukup, lalu menggunakan sisir yang lembut. Hindari penggunaan pengering rambut.

c.Kebersihan kulit
Setelah persalinan, ekstra cairan tubuh yang dibutuhkan saat hamil akan dikeluarkan kembali melalui air seni dan keringat untuk menghilangkan pembengkakan pada wajah, kaki, betis, dan tangan ibu. oleh karena itu, dalam minggu-minggu pertama setelah melahirkan, ibu akan merasakan jumlah keringat yang lebih banyak dari biasanya. Usahakan mandi lebih sering dan jaga agar kulit tetap kering.
d.Kebersihan vulva dan sekitarnya.
- Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
- Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
- Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
- Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh luka, cebok dengan air dingin atau cuci menggunakan sabun.


3.                   Perawatan perineum
Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjukan untuk mencuci tangan. Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari. Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.
Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan Perawatan Perineum
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.
Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001), adalah pencegahan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi.
Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit


Episotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).
Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).
Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam proses persalinan yaitu :
1.      Episiotomi medial
2.      Episiotomi mediolateral
Sedangkan rupture meliputi
1.      Tuberositas ischii
2.      Arteri pudenda interna
3.      Arteri rektalis inferior
http://creasoft.files.wordpress.com/2008/04/pp.jpg?w=300&h=259
Gambar 1. Tipe-Tipe Episiotomi
Lingkup Perawatan
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung lochea (pembalut) (Feerer, 2001).
Sedangkan menurut Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah
Mencegah kontaminasi dari rektum dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.
Waktu Perawatan
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah
Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
Penatalaksanaan
a.       Persiapan
b.      Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
c.       Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001).

d.      Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
3.      Mencuci tangannya
4.      Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
5.      Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
4.      Berkemih dan BAB ke toilet
5.      Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
6.      Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
7.      Pasang pembalut dari depan ke belakang.
8.      Cuci kembali tangan

e.       Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
4.      Perineum tidak lembab
5.      Posisi pembalut tepat
6.      Ibu merasa nyaman
Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum
1.      Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein.
2.      Obat-obatan
Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal.
Antikoagulan : Dapat menyebabkan hemoragi.
Antibiotik spektrum luas / spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.
3.      Keturunan
Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.
9.      Sarana prasarana
Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik.
10.  Budaya dan Keyakinan
Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
Dampak Dari Perawatan Luka Perinium
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini :
1.      Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
2.      Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir.
3.      Kematian ibu post partum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah (Suwiyoga, 2004).

4.                   Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup,tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu. Secara umum,istirahat berartisuatu keadaan tenang,relaks,tanpa tekanan emosional,dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi,beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang,berjalan-jalan di taman juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.
Sedangkan tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal,tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fsiologis tubuh,dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu kita,kita gunakan untuk tidur. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas,mengurangi stress dan kecemasan,serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsenterasi saat hendak melakukan aktivitas sehari-hari.
Istirahat yang memuaskan bagi ibu yang baru melahirkan merupakan masalah yang sangat penting sekalipun tidak mudah dicapai. Keharusan ibu untuk beristirahat sesudah melahirkan memang tidak diragukan lagi, kehamilan dengan beban kandungan yang berat dan banyak keadaan yang mengganggu lainnya, pekerjaan bersalin, bukan persiapan yang baik dalam menghadapi kesibukan yang akan terjadi. Padahal hari-hari postnatal akan dipenuhi oleh banyak hal, begitu banyak yang harus dipelajari, ASI yang diproduksi dalam payudara, kegembiraan menerima kartu ucapan selamat, karangan bunga, hadiah-hadiah serta menyambut tamu dan juga kekhawatiran serta keprihatinan yang tidak ada kaitannya dengan situasi ini. Jadi, dengan tubuh yang letih dan mungkin pula pikiran yang sangat aktif, ibu sering perlu diingatkan dan dibantu agar mendapatkan istirahat yang cukup.
*Kegunaan atau fungsi dari Tidur yang cukup :
1. Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.
2. Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.
3. Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.
4. Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.
5. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.
*Fase / Tahapan Tidur Seseorang :
1. Awal
2. Non rapid eyes movement (non-rem)
3. Rapid Eyes Movement (rem)
4. Dream Sleep
Posisi tidur ibu waktu beristirahat sesudah melahirkan penderita harus tidur terlentang, hanya dengan satu bantal yang tipis. Tetapi ada juga pendapat lain mengatakan bahwa ibu bebas memilih posisi tetapi untuk memudahkan pengawasan sebenarnya tidur telentang lebih baik karena dengan tidur terlentang mudah mengawasi keadaan kontraksi uterus dan mengawasi pendarahan.
Biasanya setelah melahirkan penderita akan merasa lelah dan dapat tidur sehingga merasa nyaman berada ditempat tidur. Usaha agar penderita dapat tidur ialah dengan menyakinkan penderita bahwa keadaannya normal. Istirahat dan tidur sangat perlu bagi penderita, selain untuk mengembalikan kesehatan, juga untuk pembentukan air susu ibu.
Penderita juga diperbolehkan bangun dan turun dari tempat tidur pada hari kedua setelah melahirkan karena membawa beberapa keuntungan:
a. Pelemasan otot lebih baik
b. Sirkulasi darah lebih lancar, mempercepat penyembuhan
c. Memperlancar pengeluaran lochia berarti mempercepat involusi
d. Penderita merasa sehat, karena tidak bersikap sebagai orang sakit
e. Mengurangi bahaya embolus dan thrombosis
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
*Istirahat malam
Selama satu atau dua malam yang pertama,ibu yang baru mungkin memerlukan obat tidur yang ringan. Biasanya dokter akan memberikannya jika benar-benar diperlukan. Kerapkali tubuhnya sendiri yang mengambil alih fungsi obat tidur ini dan ia benar-benar tidur lelap sehingga pemeriksaan tanda-tanda vital serta fundus uteri hanya sedikit mengganggunya. Sebagian ibu menemukan bahwa lingkungan yang asing baginya telah mengalihkan perhatiannya dan sebagian lainnya merasa terganggu oleh luka bekas episiotomy sehingga semua ini akan menghalangi tidurnya ketika pengaruh pembiusan sudah hilang. Rasa nyeri atau terganggu selalu memerlukan pemeriksaan dan obat analgesic dapat diberikan sebelum pasien menggunakan obat tidur
Setelah hari kedua postnatal, pemberian obat tidur pada malam hari biasanya sudah tidak diperlukan lagi dan tidak dianjurkan jika ibu ingin menyusui bayinya pada malam hari. Ibu harus dibantu agar dapat beristirahat lebih dini dan tidak diganggu tanpa alas an. Hal-hal kecil yang menarik perhatiannya seperti suara pintu yang berderik atau bunyi tetesan air dari keran harus dilaporkan pada siang harinya sehingga dapat diatasi sebelum suara-suara tersebut mengganggu tidur ibu.
Ibu yang baru yang tidak dapat tidur harus diobservasi dengan ketat dan semua keadaan yang ditemukan harus dilaporkan pada dokter. Insomnia merupakan salah satu tanda peringatan untuk psikosis nifas.
*Pola istirahat
a. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
b. Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kagiatan rumah tangga biasa secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
c. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam berbagai hal :
1. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
2. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
3. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri
Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. Kurang istirahat dapat mengurangi produksi ASI , memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak pendarahan, menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayinya (Saifudin AB, 2002 : N – 25).
Setelah menghadapi ketegangan dan kelelahan saat melahirkan, usahakan untuk rileks dan istirahat yang cukup, terutama saat bayi sedang tidur. Kebutuhan istirahat dan tidur harus lebih diutamakan daripada tugas-tugas rumah tangga yang kurang penting. Jangan sungkan untuk meminta bantuan suami dan keluarga jika ibu merasa lelah. Istirahat juga memberi ibu energi untuk memenuhi kebutuhan makan dan perawatan bayi sering dapat tidak terduga. Pasang dan dengarkan lagu-lagu klasik pada saat ibu dan bayi beristirahat untuk menghilangkan rasa tegang dan lelah.

5.                   Ambulasi
Setelah bersalin, ibu akan merasa lelah. Oleh karena itu, ibu harus istirahat. Mobilisasi yang dilakukan tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka.
Ambulasi dini (early ambulation) adalah mobilisasi segera setelah ibu melahirkan dengan membimbing ibu untuk bangun dari tempat tidurnya. Ibu post partum diperbolehkan bangun dari tempat tidurnya 24-48 jam setelah melahirkan. Anjurkan ibu untuk memulai mobilisasi dengan miring kanan/kiri, duduk kemudian berjalan.
Keuntungan ambulasi dini adalah:
1.      Ibu merasa lebih sehat dan kuat
2.      Fungsi usus, sirkulasi, paru-paru dan perkemihan lebih baik
3.      Memungkinkan untuk mengajarkan perawatan bayi pada ibu
4.      Mencegah trombosis pada pembuluh tungkai
5.      Sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis).
Menurut penelitian mobilisasi dini tidak berpengaruh buruk, tidak menyebabkan perdarahan abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi maupun luka di perut, serta tidak memperbesar kemungkinan prolapsus uteri.
Early ambulation tidak dianjurkan pada ibu post partum dengan penyulit, seperti anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam, dan sebagainya.
                7.5. PELAKSANAAN ASUHAN KEBIDANAN
1. TINDAKAN MANDIRI
a.       menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang di berikan
b.       Memberi pelayanan pranikah pada anak ramaja dan dengan melibatkan mereka sebagai klien
c.       Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal
  1. Memberi asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien atau keluarga
  2. Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru Lahir
  3. Memberi asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien atau keluarga
  4. Memberi asuhan kebidanan pada wanita pada gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium serta monopause
  5. Memberi asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana
  6. Memberi asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga
2. TUGAS KOLABORASI
n  Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
n  Memberi asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan pertolongan pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
n  Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi serta keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan tindakan klien dan keluarga
n  Memberi asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga
n  Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga
n  Memberi asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga
3.      TINDAKAN PENGAWASAN
a.       melakukan pengawasan terhadap ibu masa nifas / setelah melahirkan
b.      pengawasan dilakukan 2 x 24 jam  secara intensif untuk mendeteksi dini adanya perdarahan
c.       dilakukan pemantauan perkembangan nutrisi dan kesehatan secara berkala pada bayi dan ibunya
d.      dengan cara mewawancara ibu tentang tindakan apa saja / asupan apa saja yang diberikan pada bayinya
4. PENDIDIKAN ATAU PENYULUHAN
a.       Memberi penyuluhan kepada individu, keluarga dan kelompok masyarakat terkait dengan pelayanan kebidanan dalam lingkup kesehatan serta keluarga berencana
  1. Membimbing dan melatih dukun bayi serta kader kesehatan sesuai dengan bidang tanggung jawab bidan
  2. Memberi bimbingan kepada para peserta didik bidan dalam kegiatan praktik di klinik dan di masyarakat
  3. Mendidik peserta didik bidan atau tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan bidang keahliannya











BAB III
   KESIMPULAN
Anticipatory guidance merupakan upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak.
Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk memenuhi produksi air susu. Ibu nifas dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi meliputi kebutuhan Kalori, Protein, Kalsium dan vitamin D, Magnesium, Sayuran hijau dan buah, Karbohidrat kompleks, Lemak, Garam, Cairan , Vitamin, Zinc, DHA.
Health education ibu nifas meliputi nutrisi, hygiene, perawatan perineum, istirahat dan tidur, ambulasi. Sedangkan pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas meliputi tindakan mandiri, kolaborasi, tindakan pengawasan, dan pendidikan/penyuluhan.













DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar