Kamis, 05 Januari 2012

ASKEB III Merencanakan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas

BAB  I
PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang
          Setelah ibu melahirkan, maka ibu memasuki masa nifas atau yang lazim disebut puerpurium. Masa nifas (puerpurium) adalah waktu yang dimulai setelah placenta lahir dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil) dalam  waktu kurang lebih 3 bulan.
          Dimulai dengan kehamilan, persalinan dan dilanjutkan dengan masa nifas merupakan  masa yang kritis bagi ibu dan bayinya. Kemungkinan timbul masalah dan penyulit selama masa nifas. Apabila tidak segera ditangani secara efektif akan membahayakan kesehatan, bahkan bisa menyebabkan kematian dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam  24 jam pertama.
          Untuk  itu pemberian asuhan kebidanan kepada ibu dalam  masa nifas sangat perlu dilakukan yang bertujuan untuk  menjaga kesehatan ibu dan bayi, melaksanakan deteksi dini adanya komplikasi dan infeksi, memberikan pendidikan pada ibu serta memberikan pelayanan kesehatan pada ibu dan bayi. Selama masa nifas ibu akan mengalami berbagai perubahan.
          Oleh karena  itu, pelayanan atau asuhan merupakan cara penting untuk  memonitor dan mendukung kesehatan ibu nifas normal dan mengetahui secara dini bila ada penyimpangan yang ditemukan dengan tujuan agar ibu dapat melalui masa nifasnya dengan selamat dan bayinya pun sehat.
Menurut Varney (1997), penatalaksanaan menajemen kebidanan sebagai proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode mengorganisasikan fikiran dan tindakan melibatkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien.
Langkah-langkah penatalaksanaan menurut Varney yaitu:
 Langkah 1: Tahap Pengumpulan Data Dasar  
Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah  yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa.  Yang termasuk data subjektif antara  lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopskologi spiritual, pengetahuan klien.
              Data objektif adalah  yang menggambarkan  pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam  data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang (laboratorium, catatan baru dan sebelumnya).
Langkah II : Interpretasi Data Dasar
              Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya
              Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Langkah IV: Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk  melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien
              Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk  dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah V :  Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
              Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman
                   Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk  mengarahkan pelaksanaannya.
Langkah VII: Evaluasi
              Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar tetap terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam  diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam  pelaksanaannya.

2.  Tujuan
2.1     Tujuan Umum
                   Agar mahasiswa mampu memahami tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masa tumbuh kembang nifas, mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada klien dalam  masa nifas.
2.2     Tujuan Khusus
          Mahasiswa mampu:
          1.  Melaksanakan pengkajian pada bufas
          2.  Menginterpretasi data
          3.  Mengantisipasi masalah potensial
          4.  Mengidentifikasi kebutuhan segera
          5.  Merencana tindakan dan rasionalisasi
          6.  Melakukan rencana tindakan
          7.  Melaksanakan evaluasi

 

PEMBAHASAN

  1. 1.     Evaluasi secara terus menerus
Evaluasi ini meliputi beberapa hal, antara lain :
  1. Waspada perdarahan post partum
Penyebab perdarahan bisa karen atonia uteri dengan melakukan observasi melekat pada kontraksi uterus selam 4 jam pertama post partum dengan melakukan palpasi uterus. Selain itu juga dilakukan pemeriksaa kemungkinan perdarahan dari robekan ( laserasi atau episiotomi) perineum.
  1. Melakukan rangsangan
Perangasanga traktil ( masase ) uterus untuk merangsang uterus berkontraksi dengan baik dan kuat berguna untuk menutup perdarahan arteri pada dinding uterus.
  1. Evaluasi tinggi fundus uteri
Setelah placenta lahir, uterus merupakan alat yang keras karena  kontraksi dan relaksi otot-otot. Fundus uteri 3 jari bawah pusat, selama 2 hari berikutnya besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke –10 tidak teraba lagi dari luar.
  1. Pengukuran vital sign
(1)   Suhu Badan
      Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal. Tetapi tidak lebih dari 39°C sesudah 12 jam pertama setelah melahirkan. Umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C kemungkinan ada infeksi.
(2) Nadi
      Nadi umumnya 60-80 x/menit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi.  Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan/penyakit jantung. Pada nifas umumnya denyut nadi lebih  labil dibanding suhu badan.
  1. Proses adaptasi psikologi pasien dan suami
Mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua dan merawat anak

  1. Kemajuan proses laktasi
Masing-masing buah dada terdiri dari 15-24 lobi yang terletak terpisah satu sama yang lain oleh jaringan lemas. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini. Acini ini menghasilkan air susu. Tiap lobus mempunyai saluran halus untuk  mengalirkan air susu. Saluran ini disebut duktus laktiferus yang memusat menuju puting susu dimana masing-masing bermuara. Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam  kehamilan. Pada waktu itu buah dada belum mengandung susu melainkan colostrum yang dikeluarkan dengan memijat areola mamae.
  1. Masalah pada payudara
*Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan terasa nyeri
a. Bendungan Payudara
-     Suhu tidak lebih dari 38,5°C
-     Terjadi dalam  minggu-minggu pertama PP
b. Mastitis
-     Suhu lebih dari 38,5°C
-     Terjadi pada minggu ke-2 PP
-     Bengkak, keras, kemerahan, nyeri tekan
  1. Intake cairan dan makanan
-          Mengonsumsi 500 kalori tiap hari
-          Makanan dengan diit seimbang untuk  dapat protein, vitamin dan mineral yang cukup.
-          Minum air putih ± 3 liter setiap hari
-          Minum pil penambah darah selama 40 hari pasca persalinan.
  1. Perkembangan keterkaitan pasien dengan bayinya
*Peran sebagai  Ibu
a. Teori Reva Rubin
Penekanan teori rubin ® pencapaian peran ibu. Seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas berupa latihan-latihan. Pencapaian peran ibu dimulai selama hamil sampai 6 bulan setelah persalinan.
b. Teori Ramonat T Marcer
Penekanan ® stres ante partum dan pencapaian peran ibu. Menjadi seorang ibu berarti memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan pengenalan yang lengkap tentang diri sendiri.
Langkah-langkah dalam  pelaksanaan peran ibu adalah
-          Antisipatori
Yaitu masa sebelum menjadi ibu, penyesuaian sosial dan psikologi terhadap peran barunya dengan mempelajari apa yang dibutuhkan untuk  menjadi seorang ibu.
-       Formal
Yaitu dimulai dengan peran sesungguhnya seorang ibu.
-       Informal
Yaitu ibu mampu menemukan jalan yang baik untuk  melaksanakan peran seorang ibu.
-       Personal
Yaitu wanita yang telah mahir dalam  melaksanakan perannya.
c. Teori Jean Ball
Penekanan ® agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai  ibu baik fisik dan psikologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan teori ini terbentuk 3 element :
                  1.         Pelayanan maternitas
      2.         Pandangan masyarakat terhadap keluarga
      3.         Support terhadap kepribadian wanita
               *Bounding dan Attachment
          1.  Menurut Nelson (1986)
-     Banding = dimulainya interaksi emosi sensorik, fisik antara  orangtua dan bayi segera setelah lahir.
-     Attachment = ikatan efektif yang terjadi diantara individu (pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab).
     2.  Benner dan Brown (1989)
-     Bounding = terjadi hubungan orangtua dan bayi sejak awal kehidupan.
-     Attachment = pencurahan kasih sayang diantara individu.

  1. Kemampuan dan kemauan pasien untuk berperan dalam perawatan bayinya
  2. Mendokumentasikan
Merekap semua asuhan dan temuan selama persalinan kala empat di bagian belakang partograf, segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

  1. 2.     Gangguan rasa nyeri
    1. Nyeri perineum
1)      Memberi analgesic oral ( paracetamol 500mg tiap 4 jam atau bila perlu)
2)      Mandi dengan air hangat ( walaupun hanya akan mengurangi sedikit rasa nyeri)
  1. Nyeri berhubungan seksual pertama kali setelah melahirkan
1)      Melakukan pendekatan kepada pasangan bahwa saat hubungan seksual di awal post partum akan menimbulkan rasa nyeri. Oleh karena itu, sangat dipertimbangkan mengenai teknik hubungan seksual yang nyaman
  1. Nyeri punggung
1)      Memberikan obat pereda rasa nyeri ( misalnya, Neuribiaon)
2)      Melakukan fisioterapi ( masase dan penyinaran)
3)      Menjaga postur tubuh yang baik ( misalnya, duduk selalu tegak, posisi tidur yang nyaman bantal tidak terlalu tinggi)
  1. Nyeri pada kaki
1)      Melakukan kompres air hangat dan garam
2)      Tidur posisi kaki lebih tinggi daripada badan
3)      Masase kaki menggunakan minyak kelapa
  1. Nyeri pada kepala (sakit kepala)
1)      Memberikan obat pereda rasa sakit
2)      Kompres air hangat di tengkuk
3)      Masase pada punggung
  1. Nyeri pada leher dan bahu
1)      Kompres air hangat pada leher dan bahu
2)      Masase bahu dna punggung
3)      Mengusahakan posisi tidur yang nyaman dan istirahat cukup

  1. 3.     Mengatasi infeksi
Infeksi merupakan penyebab utama kematian ibu di Negara berkembang.
Tanda atau gejala infeksi
  • Nadi cepat ( 110 kali/ menit atau lebih)
  • Temperature tubuh diatas 38 derajad celcius
  • Kedinginan
  • Cairan vagina yang berbau busuk
Untuk mengatasi infeksi dilakukan beberapa hal berikut :
  1. Mengkaji penyebab infeksi
  2. Memberikan antibiotika
  3. Memberikan roborantia
  4. Meningkatkan asupan gizi ( diet tinggi kalori tingi protein )
  5. Meningkatkan intake cairan
  6. Mengusahakan istirahat yang cukup
  7. Melakukan perawatan luka yang infeksi ( jika penyebab infeksi karena adanya luka yang terbuka )

  1. 4.     Mengatasi cemas
Cemas merupakan salah satu masalah psikologis pada masa pasca persalinan, bukan merrupakan komplikasi yang jarang ditemukan. Masalah ini dapat dihindari dengan adanya dukungan social dari keluarga serta dukungan pelayanan kesehatan selama kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan.
Untuk mengatasi cemas :
  1. Mengkaji penyebab cemas
  2. Melibatkan keluarga dalam mengkaji penyebab cemas dan alternative penanganannya
  3. Memberikan dukungan mental dan spiritual kepada pasien dan keluarga
  4. Menfasilitasi kebutuhan pasien yang terkait dengan penyebab cemas:
1)      Sebagai teman sekaligus pendengar yang baik
2)      Sebagai konselor
3)      Pendekatan yang bersifat spiritual

  1. 5.     Menjelaskan tentang gizi, KB, tanda bahaya, hubungan seksual, senam nifas, perawatan perineum, perawatan bayi sehari-hari
    1. Gizi
1)      Tidak berpantang pada daging, ikan, dan telur
2)      Banyak sayur dan buah
3)      Banyak minum air putih, minimal 3 liter sehari, terutama setelah menyusui
4)      Menambah kalori 500mg sehari
5)      Mengkonsumsi tablet vitamin A dan zat besi selama nifas.
  1.  KB
1)      Idealnya pasangan harus menunggu sekurang kurangnya 2 tahunsebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dn bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada merea tentang cara mencegah kehamilan yang tidak di inginkan.
2)      Biasnya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haid nya selama meneteki (amenore laktasi). Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehailan baru. Risiko cara ini ialah 2 % kehamilan.
3)      Meskipun beberapa metode KB mengandung risiko, penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu sudah haid lagi.
4)      Sebelum menggunakan metode KB, hal hal berikut sebaiknya dijelaskan kepada ibu :
  • Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektivitasnya
  • Kelebihan/ keuntungan
  • Kekurangannya
  • Efek samping
  • Bagaimana menggunakan metode itu
  • Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca persalinan yang menyusui
5)   Jika seorang ibu / pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannya lagi dalam 2 mingguuntuk mengetahui apakah ad yang ingin ditanyakan oleh ibu/ pasangan itu dan untuk mengetahui apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
6) Mengkaji keinginan pasangan mengenai siklus reproduksi yang mereka inginkan.
7) Mendiskusikan dengan suami
8) Menjelaskan maisng-masing metode alat kontrasepsi
9) Memastikan pilihan alat kontrasepsi yang paling sesuai dengan pasien
  1.  Tanda bahaya
Tanda bahaya berikut merupakan hal yang penting, yang harus disampaikan kepada ibu dan keluarga. Jika pasien mengalami salah satu atau lebih keadaan berikut maka harus secepatnya datang ke bidan atau dokter.
Sebelum meninggalkan ibu, pastikan  bahwa ia dapat berkemih sendiri dan keluarganya mengetahui bagaimana menilai kontraksi dan jumlah darah yang keluar.
Mengajarkan pada mereka bagaimana mencari pertolongan jika ada tanda tanda bahaya seperti :
  • Demam
Kemungkinan penyebabnya :
- Febris puerpuralis
- Mastilitis
- Flegmasia Alba Dolens
  • Perdarahan aktif
Perdarahan pervagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan ganti pembalut2 kali dalam setengah jam).
  • Keluar banyak bekuan darah
  • Lemas luar biasa
  • Penyulit dalam menyusukan bayinya
  • Nyeri panggul atau abdomen yang lebih hebat dari nyeri kontraksi biasa
  • Pengeluaran pervagina yang berbau menusuk/menyengat.
  • Rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung
  • Rasa sakit kepala yang terus-menerus, nyeri epigastrik, atau masalah penglihatan
  • Pembengkakan di wajah atau di tangan
  • Demam, muntah, rasa sakit waktu BAK, atau jika merasa tidak enak badan.
  • Payudara yang berubah menjadi merah, panas, dan sakit
  • Kehilangan nafsu makan dalam jangka waktu yang lama
  • Rasa sakit, warna merah, pembengkakan di kaki
  • Merasa sedih atau tidak mampu mengasuh bayi atau dirinya sendiri.
  • Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah
  1.  Hubungan seksual
Secara fisik aman untuk  berhubungan suami istri begitu darah yang merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam  vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk  melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Di awal selesai masa nifas, melakukann hubungan seksual dengan hati-hati karena biasanya akan nyeri pada perineum. Mendiskusikan dengan suami mengenai pola dan teknik hubungan seksual yang nyaman. Memberikan pengertian pada suami mengenai kemungkinan keluhan yang akan dialami istri saat berhubungan seksual yang pertama kali setelah melahirkan
  1. Senam nifas
Melakukan senam nifas dengan aturan senam sebagai berikut :
1)      Senam nifas dilakukan pada hari pertama post partum
2)      Dilakukan 2 kali sehari
3)      Setiap macam gerakan dilakukan 5-10 kali
  1. Perawatan perineum
1)      Mengusahakan luka selalu dalam keadaan kering (mengeringkan setiap kali setelah buang air kecil)
2)      Menghindari menyentuh luka perineum dengan tangan
3)      Membersihkan kemaluan selalu dari arah depan ke belakang
4)      Menjaga kebersihan daerah perineum ( mengganti pembalut setiap kali sudah penuh atau minimal 3 kali sehari)
10.  Perawatan bayi sehari-hari
1)      Mempertahankan lingkungan bayi tetap hangat untuk menjaga supaya tidak terjadi penurunan suhu bayi
2)      Mencegah iritasi kulit bayi dengan selalu menjaga kebersihan tangan bayi atau pengasuh bayi
3)      Jika bayi mengalami iritasi kulit, hindari pemakaian bedak pada lokasi iritasi
4)      Mengolesi kulit yang iritasi dengan salep sesuai resep dokter atau jika iritasi ringan cukup olesi dengan minyak kelapa bersih.
5)      Menjaga kebersihan kulit bayi, menghindari kulit lembab dnegan mengganti baju bayi minimal 2 kali sehari atau sewaktu-waktu ketika basah oleh keringat atau terkena muntahan
6)      Menghindari menggosok kulit bayi terlalu keras ketika membersihkan daerah anus dan genital
7)      Jika ditemukan tanda-tanda alergi padakulit, misalnya kemerahan dan bintik-bintik, segera konsultasikan ke dokter dan menghentikan untuk sementara produk sabun bayi yang digunakan.
8)      Mengusahakan menjemur bayi tiap pagi antara pukul 06.30 sampai dengan pukul 07.00.
9)      Untuk kenyamanan bayi, pijat kaki dan tanga bayi menjelang tidur menggunakan baby oil.
10)  Membersihkan sekitar mulut bayi setiap memberikan minum pada bayi.
11)  Menghindari memijat pada daerah perut bayi.
12)  Untuk menghindari trauma kulit bayi karena kuku bayi yang tajam dan panjang, mengusahakan sellau memakaikan sarung tangan pada bayi.
13)  Memilih bahan baju yang tidak kaku dan menyerap keringat untuk bayi.
14)  Menyediakan selalu minyak telon/kayu putih sebagai antisipasi jika bayi. mengalami gangguan perut (kembung) atau kedinginan.

  1. 6.     Memberikan kenyamanan pada ibu
Selama masa nifas, ibu akan mengalami perdarahan. Berawal dari inilah banyak terjadi komplikasi baik berupa infeksi maupun gejala sakit yang lain. Maka dibutuhkan suatu upaya untuk memberikan kenyamanan pada ibu. Ada beberapa hal yang membantu memberikan kenyamanan pada ibu antara lain :
1)   Istirahat
- Menganjurkan ibu untuk  beristirahat cukup untuk  mencegah kelelahan yang berlebihan.
- Sarankan ibu untuk  kembali ke kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan.
- Menyarankan ibu untuk  tidur siang.
- Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam  beberapa hal:
              1.  Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
              2.  Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
              3.  Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk  merawat bayi dan dirinya sendiri.
2)  Personal Higiene
-  Menganjurkan ibu menjaga kebersihan seluruh tubuh
- Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
- Menyarankan ibu untuk  ganti pembalut minimal 2 kali sehari
- Menyarankan ibu untuk  mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah  membersihkan daerah genetalia.
- Nasehati ibu untuk  membersihkan dari setiap kali BAB atau BAK.
- Jika ibu mempunyai luka episiotomi/laserasi sarankan pada ibu untuk  menghindari menyentuh daerah luka.

  1. 7.     Membantu ibu untuk menyusui bayi
  2. Mengupayakan berada dalam posisi yang senyaman mungkin saat menyusui.
  3. Payudara dalam keadaan bersih.
  4. Lebih efektif jika posisi ibu duduk.
  5. Mengusahakan perut bayi menempel perut ibu.
  6. Menyendawakan bayi setiap selesai menyusui.
  7. Menyusui minimal setiap 3 jam sekali atau setiap bayi meminta ( on demand )

  1. 8.     Memfasilitasi menjadi orang tua
  2. Memberikan dukungan dan keyakinan pada pasangan akan kemampuan mereka sebagai orang tua
  3. Mengupayakan untuk belajar merawat bayi selama ini telah dilakuakn sudah cukup bagus
  4. Perlu persiapan mental dan material karena anak adalah suatu anugerah sekaligus amanah yang harus dirawat sebaik-baiknya
  5. Dengan adanya anak akan mengubah beberapa pola dan kebiasaan sehari-hari, misalnya waktu istirahat, perhatian terhadap pasangan, komunikadi, tuntutan dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik bagi anak.
  6. 9.     Persiapan pulang
Selama ibu dalam masa perawatan harus diberikan berbagai cara untuk membantu ibu dalam merawat bayi, dari memandikan hingga perawatan yang dibutuhkan bayi sehari-hari. Selain itu juga membantu ibu dalam perawatan payudara agar dalam memberikan ASI tidak mengalami banyak kesulitan.
Imunisasi dan informasi tentang KB sangat dianjurkan untuk disampaikan kepada orang tua sebelum pulang dan diberikan jadwal untuk selalu kunjungan ke tempat pelayanan kesehatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Sebelum pulang, mengusahakan bahwa ibu telah diberi pengetahuan dan latihan yang cukup untuk menjaga dan merawat bayi serta dirinya. Tak luput juga dari pihak suami untuk menemani dan mendukung upaya-upaya dalam menjaga kesehatan bayi dan ibu.













PENUTUP

             Kesimpulan
          Dari berbagai uraian masalah penerapan manajemen kebidanan dalam  merencanakan Asuhan Kebidanan dapat diperoleh kesimpulan sebagai  berikut:
1.  Dalam  melakukan pengkajian diperlukan komunikasi terapeutik yang baik dengan klien sehingga dapat diperoleh data yang lengkap.
2.  Dengan menganalisa data secara cermat maka akan dibuat diagnosa masalah.
3.  Dalam  menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan tidak mengalami kesulitan jika kerjasama yang baik dengan klien.
4.  Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan prioritas masalah didasarkan perencanaan tindakan yang disusun.
5.  Hasil evaluasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan merupakan penilaian tentang keberhasilan asuhan kebidanan.



DAFTAR PUSTAKA

  • Depkes RI. 2002. Asuhan Persalinan Normal. JHPIEGO. Jakarta.
  • Depkes RI. 2001. Konsep Asuhan Kebidanan. JHPIEGO. Jakarta.
  • Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. EGC: Jakarta.
  • Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. EGC. Jakarta.
  • Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.  Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
  • Pusdiknakes. 2001. Konsep Asuhan Kebidanan. JHPIEGO. Jakarta.
  • Saifudin, Abdul Bahri. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. JHPIEGO. Jakarta. 
  • Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  • Saifudin, Abdul Bahri. 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
  • Varney, Hellen. 2001. Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar