Minggu, 08 Januari 2012

ASKEB II KOMPRESI AORTA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2 :
a.Postpartum primer:Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
b.Postpartum sekunder: Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir Sebagian besar perdarahan pada masa nifas (75-80%) adalah akibatadanya atonia uteri.
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana miometrium tidak dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempatmelekatnya plasenta menjadi tidak terkendali. Umumnya perdarahan karenaatonia uteri terjadi dalam 24 jam pertama post partum.
Sebagaimana kita ketahui bahwa aliran darah uteroplasenta selama masakehamilan adalah 500-800 ml/menit, sehingga bisa kita bayangkan ketika uterusitu tidak berkontraksi selama beberapa menit saja, maka akan menyebabkankehilangan darah yang sangat banyak. sedangkan volume darah manusia hanya berkisar 5-6 liter saja. Pada perdarahan postpartum karena atonia uteri bila tidak dilakukan penanganan secara komprehensif dapat mengakibatkan kematian pada ibu.
Penatalaksanaan pada perdarahan postpartum karena Atonia Uteri yaitu diantaranya melakukan drip Oksitosin, Kompresi Bimanual Interna, Kompresi Bimanual Eksterna, Kompresi Aorta Abdominal dan apabila perdarahan terus berlangsung dilakukan tindakan operatif yaitu Ligasi Arteri Uterina atau Histerektomi.
Dari fenomena tersebut maka penulis tertarik untuk mengangkat kasus Dengan Perdarahan Post Partum Dini Karena Atonia Uteri.

B. RUMUSAN MASALAH
1.   Menjelaskan tata cara melakukan kompresi aorta abdominalis
2.   Menjelaskan bagaimana tekhnik melakukan penekanan pada aorta
C.  TUJUAN
Makalah ini dibuat dengan tujuan :
1.      Memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan 2
2.      Mahasiswa diharapkan dapat mengerti pengertian, tata cara, dan teknik melakukan dari Kompresi Aorta Abdominalis













BAB II
ISI

A.    Pengertian Kompresi Aorta Abdominalis
Kompresi bimanual adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menghentikan perdarahan secara mekanik. Proses mekanika yang digunakan adalah dengan aplikasi tekanan pada korpus uteri sebagai upaya pengganti kontraksi meometrium (yang untuk sementara waktu tidak dapat berkontraksi). Kontraksi meometrium dibutuhkan untuk menjepit anyaman cabang- cabang pembuluh darah besar yang berjalan diantaranya.
Prosedur ini dilakukan dari luar (kompresi bimanual eksterna) atau dari dalam (kompresi bimanual interna), tergantung tahapan upaya mana yang memberikan hasil atau dapat mengatasi perdarahan yang terjadi. Bila kedua upaya tersebut belum berhasil, segera lakukan usaha lanjutan, yaitu kompresi aorta abdominalis.
Pada keadaan yang sangat terpaksa dan termpat rujukan yang sangat jauh, walaupun bukti- bukti keberhasilan kurang menyokong tapi dapat dilakukan tindakan alternatif yaitu pemasangan tampon uterovaginal dan kompresi eksternal.
Upaya tersebut diatas sebaiknya dikombinsikan dengan uterotonika (oksitosin 20 UI, ergometrin 0,4 mg dan / atau misoprostol 600 mg).

B.     Tujuan Kompresi Aorta Abdominal
Kompresi Aorta Abdominal dilakukan untuk menghentikan perdarahan akibat atonia uteri.





C.     Langkah klinik kompresi aorta abdominal
A. Persetujuan tindakan medik
B. Persiapan sebelum tindakan
·         Pasien
1. Infus dan cairannya, sudah terpasang
2. Perut bawah, lipat paha dan vulva, sudah dibersihkan dengan air dan sabun
3.Siapkan alas bokong dan kain penutup perut bawah
4. Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopolmuner
·         Penolong
1. Baju kamar tindakan
2. Sarung tangan DTT
3. Tensimeter dan stetoskop
C. Tindakan
1. Baringkan ibu diatas ranjang, penolong menghadap sisi kanan pasien. Atur posisi penolong sehingga pasien berada pada ketinggian yang sama dengan pinggul penolong.
2. Tungkai diletakkan pada dasar yang rata (tidak memakai penopang kaki) dengan sedikit fleksi pada artikulasio koksae.
3. Raba pulsasi arteri femoralis dengan jalan meletakkan ujung jari telunjuk dan tengah tangan kanan pada lipat paha, yaitu pada perpotongan garis lipat paha dengan garis horisontal yang melalui titik 1 sentimeter diatas dan sejajar dengan tepi atas simfisis ossium pubis. Pastikan pulsasi arteri teraba dengan baik.
4. Setelah pulsasi dikenali, jangan pindahkan kedua ujung jari dari titik pulsasi tersebut.
5. Kepalkan tangan kiri dan tekankan bagian punggung jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking pada umbilikus ke arah kolumna vertebralis dengan arah tegak lurus.
6. Dorongan kepalan tangan kanan akan mengenai bagian yang keras di bagian tengah/ sumbu badan ibu dan apabila tekanan kepalan tangan kiri mencapai aorta abdominalis maka pulsasi arteri femoralis (yang dipantau dengan ujung jari telunjuk dan tengah tangan kanan) akan berkurang/ terhenti (tergantung dari derajat tekanan pada aorta).
7.Perhatikan perubahan perdarahan pervaginam (kaitkan dengan perubahan pulsasi arteri femoralis).
Perhatikan:
• Bila perdarahan berhenti sedangkan uterus tidak berkontraksi dengan baik, usahakan pemberian preparat prostatglandin. Bila bahan tersebut tidak tersedia atau uterus tetap tidak dapat berkontraksi setelah pemberian prostatglandin, pertahankan posisi demikian hingga pasien dapat mencapai fasilitas rujukan.
• Bila kontraksi membaik tetapi perdarahan masih berlangsung maka lakukan kompresi eksternal dan pertahankan posisi demikian hingga pasien mencapai fasilitas rujukan.
• Bila kompresi sulit untuk dilakuakan secara terus menerus maka lakukan pemasangan tampon padat uterovaginal, pasang gurita ibu dengan kencang dan lakukan rujukan.
• Kompresi baru dilepaskan bila perdarahan berhenti dan uterus berkontraksi dengan baik. Teruskan pemberian uterotonika
8. Bila perdarahan berkurang atau berhenti, pertahankan posisi tersebut dan lakukan pemijatan uterus (oleh asisten) hingga uterus berkontraksi dengan baik.








D.    Gambar tindakan Kompresi Aorta Abdominalis

E.     Sikap bidan menghadapi atonia uteri



BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kompresi aorta dilakukan untuk menghentikan pendarahan dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
Tekanlah aorta abdominalis diatas uterus dengan kuat dan dapat dibantu dengan tangan kiri selama 5 s/d 7 menit.
Lepaskan tekanan sekitar 30 sampai 60 detik sehingga bagian lainnya tidak terlalu banyak kekurangan darah.
Tekanan aorta abdominalis untuk mengurangi perdarahan bersifat sementara sehingga tersedia waktu untuk memasang infus dan memberikan uterotonika secara intravena.
B. SARAN
Bagi petugas kesehatan hendaknya berusaha semaksimal mungkin mencegah terjadinya perdarahan post partum dan mengetahui cara-cara menghentikan perdarahan.







DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/73262214/1/Latar-Belakang diakses pada tanggal 30 November 2011 pukul 10.00 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar