Rabu, 04 Januari 2012

ASEB III PERUBAHAN FISIK DAN PSIKOLOGI MASA NIFAS

BAB I PERUBAHAN FISIK DAN PSIKOLOGI MASA NIFAS
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar kemudian lepas dari rahim, sampai enam minggu kemudian disertai denan pulihnya kembali alat-alat kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lainnya yang berkaitan dengan persalinan.
Pada masa nifas ini ibu akan mendapati beberapa perubahan pada tubuh maupun emosi. Bagi yang belum mengetahui hal ini tentu akan merasa khawatir akan perubahan yang terjadi, oleh sebab itu penting bagi ibu memahami apa saja perubahan yang terjadi agar dapat menangani dan mengenali tanda bahaya secara dini. Beberapa perubahan masa nifas antara lain :

1.Rahim
Setelah melahirkan rahim akan berkontraksi (gerakan meremas) untuk merapatkan dinding rahim sehingga tidak terjadi perdarahan, kontraksi inilah yang menimbulkan rasa mulas pada perut ibu. Berangsur angsur rahim akan mengecil seperti sebelum hamil.

2. Jalan lahir (servik,vulva dan vagina)
Jalan lahir mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, sehingga penyebabkan mengendurnya organ ini bahkan robekan yang memerlukan penjahitan, namun akan pulih setelah 2-3 pekan (tergantung elastis tidak atau seberapa sering melahirkan). Jaga kebersihan daerah kewanitaan agar tidak timbul infeksi (tanda infeksi jalan lahir bau busuk, rasa perih, panas, merah dan terdapat nanah).

3. Darah nifas (Lochea)
Darah nifas hingga hari ke dua terdiri dari darah segar bercampur sisa ketuban, berikutnya berupa darah dan lendir, setelah satu pekan darah berangsur-angsur berubah menjadi berwarna kuning kecoklatan lalu lendir keruh sampai keluar cairan bening di akhir masa nifas.

4. Payudara
Payudara menjadi besar, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar). Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein

5. Sistem perkemihan
Hari pertama biasanya ibu mengalami kesulitan buang air kecil, selain khawatir nyeri jahitan juga karena penyempitan saluran kencing akibat penekanan kepala bayi saat proses melahirkan. Namun usahakan tetap kencing secara teratur, buang rasa takut dan khawatir, karena kandung kencing yang terlalu penuh dapat menghambat kontraksi rahim yang berakibat terjadi perdarahan.

6. Sistem pencernaan
Perubahan kadar hormon dan gerak tubuh yang kurang menyebabkan menurunnya fungsi usus, sehingga ibu tidak merasa ingin atau sulit BAB (buang air besar). Terkadang muncul wasir atau ambein pada ibu setelah melahirkan, ini kemungkinan karena kesalahan cara mengejan saat bersalin juga karena sembelit berkepanjangan sebelum dan setelah melahirkan.

7. Peredaran darah
Sel darah putih akan meningkat dan sel darah merah serta hemoglobin (keping darah) akan berkurang, ini akan normal kembali setelah 1 minggu. Tekanan dan jumlah darah ke jantung akan lebih tinggi dan kembali normal hingga 2 pekan.

8. Penurunan berat badan
Setelah melahirkan ibu akan kehilangan 5-6 kg berat badannya yang berasal dari bayi, ari-ari, air ketuban dan perdarahan persalinan, 2-3 kg lagi melalui air kencing sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan timbunan cairan waktu hamil.

9. Suhu badan
Suhu badan setelah melahirkan biasanya agak meningkat dan setelah 12 jam akan kembali normal. Waspadai jika sampai terjadi panas tinggi, karena dikhawatirkan sebagai salah satu tanda infeksi atau tanda bahaya lain.

10. Perubahan emosi
Emosi yang berubah-ubah (mudah sedih, khawatir, tiba-tiba bahagia) disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya perubahan hormon, keletihan ibu, kurangnya perhatian keluarga, kurangnya pengetahuan akan cara merawat bayi serta konflik dalam rumah tangga. Perubahan ini memiliki berbagai bentuk dan variasi dan akan berangsur-angsur normal sampai pada pekan ke 12 setelah melahirkan.
BAB II
MERUMUSKAN DIAGNOSA ATAU MASALAH AKTUAL PADA IBU NIFAS
Berasal dari data-data dasar yang di kumpulkan menginterprestasikan data kemudian diperoses menjadi masalah atau diagnosis khusus. Kata masalah dan diagnosis sama-sama digunakan karena beberapa masalah tidak dapat didentifikasikan dalam mengembangkan rencana perawatan kesehatan yang menyeluruh. Masalah sering berkaitan dengan bagaimana ibu menghadapi kenyataan tentang diagnosisnya dan ini sering kali bisa diidentifikasi berdasarkan pengalaman bidan dalam mengenali masalah seseorang. Diagnosa sebaiknya memasukkan juga riwayat paritas. Beberapa masalah yang mungkin ada pada masa nifas:

I.                   MASALAH NYERI
Gangguan rasa nyeri pada masa nifas banyak dialami meskipun pada persalinan normal tanpa komplikasi. Hal tersebut menimbulkan tidak nyaman pada ibu, ibu diharapkan dapat mengatasi gangguan ini dan member kenyamanan pada ibu. Gangguan rasa nyaeri yang dialami ibu antara lain:
1.      After pains / keram perut. Hal ini disebabkan kontraksi dalam relaksasi yang terus menerus pada uterus. Banyak terjadi pada multipara. Anjurkan untuk mengosongkan kandung kemih, tidur tengkurap dengan bantal  dibawah perut bila analgestik.
2.      Pembengkakan payudara
3.      Nyeri perineum
4.      Konstipasi
5.      Haemoroid
6.      Deuresis
           
Nyeri setelah melahirkan disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus berurutan yang terjadi secara terus – menerus. Nyeri ini lebih umum terjadi pada wanita dengan paritas tinggi dan pada wanita menyusui. Alasan nyeri lebih berat pada paritas tinggi adalah penurunan tonus otot uterus secara bersamaan menyebabkan intermitten ( sebentar – sebentar ). Berbeda pada wanita primipara, yang tonus uterusnya masih kuat dan uterus tetap berkontraksi tanpa relaksasi intermitten. Pada wanita menyusui, isapan bayi menstimulasi produksi oksitosin oleh hipofisis posterior. Pelepasan oksitosin tidak memicu refleks let down (pengeluaran ASI) pada payudara, tetapi jugamenyebabkan kontraksi uterus.
Nyeri setelah melahirkan akan hilang jika uterus tetap berkontraksi dengan baik, yang memerlukan kandung kemih kosong. Ibu harus diingatkan bahwa pengisian kandung kemih yang sering seiring tubuhnya mulai membuang kelebihan cairan setelah melahirkan akan menyebabkan kebutuhan berkemih yang sering. Kandung kemih yang penuh menyebabkan posisi uterus keatas, menyebabkan relaksasi dan kontraksi uterus yang lebih nyeri. Jika kandung kemih kosong, beberapa wanita merasa nyerinya cukup berkurang dengan mengubah posisi dirinya berbaring telungkup, dengan bantal atau gulungan selimut diletakkan dibawah abdomen. Kompresi uterus yang konstan pada posisi ini dapat mengurangi kram secara signifikan.
Analgesia yang efektif bagi sebagian besar wanita yang kontraksinya sangat nyeri dapat diperoleh dengan mengutamakan asetaminofen (tylenol) ataupun ibuprofen (motrin). Meskipun produk yang mengandung aspirin tidak direkomendasikan bagi ibu menyusui karena resiko penurunan hitung trombosit dan dapat menyebabkan sindrom Reye, ibuprofen dan asetaminofen terbukti aman.
Masalah nyeri yang lain juga bisa disebabkan karena luka jahitan bekas laserasi jalan ahir.

II.                MASALAH INFEKSI

           Infeksi nifas merupakan salah satu penyebab kematian ibu, infeksi yang mungkin terjadi adalah infeksi saluran kencing, infeksi pada genitalia, infeksi payudara, infeksi saluran pernafasan. Beberapa bakteri menyebabkan infeksi pasca persalinan.  Infeksi masa nifas merupakan penyebab tertinggi angka kematian ibu. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas ke saluran urinaria dan pembedahan merupakan penyebab terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari suhu pembengkakan takikardi dan malaise. Gejala lokal berupa uterus lembek, kemerahan, rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria. Ibu beresiko infeksi postpartum karena adanya pelepasan placenta, laserasi pada saluran genitalia episiotomi. Penyebab infeksi adalah bakteri endogen dan eksogen.
            Masalah infeksi terbagi atas beberapa macam yaitu:
a)      Infeksi genitalia
b)     Infeksi saluran kemih
c)      Infeksi saluran pernafasan atas
d)     Infeksi payudara

A.    Infeksi genitalia

            Ibu beresiko mengalami infeksi postpartum karena adanya luka pada area pelepasan placenta laserasi pada saluran genitalia dan episiotomi pada perineum penyebab infeksi adalah bakteri endogen dan eksogen, faktor predisposisi infeksi meliputi nutrisi yang buruk defisiensi zat besi, persalinan lama, ruptur membran episiotomi atau sexio caesarea.
            Gejala klinis endometritis tampak pada hari ketiga postpartum disertai suhu yang mencapai 390C, sakit kepala, kadang dapat uterus yang lembek. Untuk itu, ibu harus di isolasi. Infeksi genitalia dapat dicegah dengan menjaga kebersihan di daerah vulva, vagina, dan perineum. Pembalut harus diganti dengan teratur dan sering. Hal ini untuk menghindari gesekan antara anus dan vulva ketika mengangkat pembalut karena dapat memindahkan organisme dari anus sehingga mengontaminasi vulva dan perineum sehingga ketika melepaskan pembalut harus dari arah depan ke belakang.

B.     Infeksi saluran kemih

           Dapat terjadi karena kurang menjaga kebersihan dan lebih sering terjadi jika terdapat retensi urine dan kurangnya asupan cairan. Ibu dianjurkan untuk menjaga kebersihan vulva, tidak menahan kencing dan minum lebih banyak dan menghindari konstipasi.

C.     Infeksi saluran pernafasan atas

    Bidan  yang sedang flu berat seharusnya tidak dekat dengan ibu dan bayinya atau bidan tersebut menggunakan masker agar tidak terjadi infeksi silang. Demikian juga dengan anggota keluarga yang sedang sakit.

D.    Infeksi payudara

           Infeksi payudara atau mastitis dan abses dapat terjadi karena manajemen laktasi yang tidak benar yang dapat menyebabkan trauma pada putting sehingga merupakan masuknya kuman patogen. Hal ini dapat dicegah dengan manajemen laktasi yang benar dan menyusui bayinya on demand.

III.             MASALAH CEMAS, PERAWATAN PERINEUM, PAYUDARA DAN ASI EKSKLUSIF

A.    MASALAH CEMAS

             Rasa cemas sering timbul pada ibu masa nifas karena perubahan fisik dan emosi masih menyesuaikan diri dengan kehadiran bayi. Periode ini disebut masa krisis karena terjadi banyak perubahan perilaku dan nilai peran. Tingkat kecemasan akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bidan harus bersikap empati dalam memberikan support mental pada ibu untuk mengatasi kecemasan. Ingat ASKEB yang holistic tidak hanya berfokus pads kebutuhan fisik saja tetapi juga spisikisbagai amnapun juga kadang psikis akan mempen garuhi kondisi ibu. Atasi kecemasan dengan mendorong ibu untuk mengungkapkan persaannya. Libatkan suami dan keluarga untuk memberikan dukungan dan beri PENKES sesuai kebutuhannya sehinggga dapat membangun kepercayaan diri dalam berperan sebagai ibu.
             Bidan harus dapat menjelaskan pada ibu dan suaminya tentang bagaimana mengatasi masa cemas selama masa nifas:
1.      Bidan dapat memperhatikan dan memberi ucapan selamat atas kehadiran bayinya
yang dapat memberikan perasaan senang pada ibunya.
2.      Dalam memeberi dukungan bidan dapat melibatkan suami dan keluarga dalam merawat bayinya sehingga beban ibu berkurang. Hall ini akan menciptakan hubungan baik antara ibu dan keluarga, ibu dan bidan atau bidan dan keluarganya.
3.       Bidan dapat member informasi atau  konseling mengenai kebutuhan ibu selama periode ini. Sehingga membangun kepercayaan diri ibu dalam perannya sebagai ibu.
4.      Bidan dapat mendukung PENKES termasuk pendidikan dalam perannya sebagai ibu.
5.      Bidan dapat membantu dalam hubungan ibu dan bayinya serta menerima bayi dalam keluarganya.
6.      Bidan juga dapat berperan sebagai teman bagi ibu dan keluarganya dalam member nasehat.
7.      Waspadai gejala depresi. Tanyakan pada ibu apa yang dia rasakan serta apakah dia dapat makan dan tidur dengan nyaman.

B.     PERAWATAN PERINEUM

             Bidan berperan menjelaskan pada ibu dan suaminya tentang perawatan perineum selama masa nifas:
1.      Anjurkan ibu untuk tidak menggunakan tampon pasca partum karena resiko infeksi.
2.      Jelaskan perkembangan perubahan lochea dari rubra ke serosa hingga menjadi lochea alba.
3.      Anjurkan ibu untuk menyimpan dan melaporkan bekuan darah yang berlebihan serta pembalut yang dipenuhi darah banyak.
4.       Ajari ibu cara mengganti pembalut setiap kali berkemihatau defekasi dan setelah mandi pancuran atau rendam.
5.      Ibu dapat menggunakan kompres es segera mungkin dengan menggunakan sarung tangan atau bungkus es untuk mencegah edema.
6.      Ajari ibu untuk menggunakan botol perineum yang diisi air hangat.
7.      Ajari penting nya membersihkan perineum dari arah depan kearah belakang untuk mencegah kontaminasi.
8.      Ajari langkah – langkah memberikan rasaa nyaman pada area hemoroid.
9.      Jelaskan pentingnya mengosongkan kandung  kemih secara adekuat.  
10.  Identifikasi gejala ISK, jelaskan pentingnya asupan cairan adekuat setiap hari.

C.     MASALAH PAYUDARA

Pembengkakan payudara terjadi karena adanya gangguan antara akumulasi air susu dan meningkatkan vaskularisasi dan kongesti. Hal tersebut menyebabkan penyumbatan pada saluran limfa dan vena. Terjadi pada hari ke 3 post partum baik pada ibu menyusui maupun tidak menyusui dan berakhir + 24-28 jam.
            Tanda dan gejala gangguan ini meliputin ibu merasa payudaranya bengkak dan mengalami distensi, kulit payudara menjadi mengilat dan merah payudara hangat jika disentuh, vena pada payudara terlihat, payudara nyeri terasa keras dan penuh.
Payudara memiliki beberapa kelainan:
1.      Bendungan air susu
                   Selama 24 hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi lacteral, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan benjol. Keadaan ini yang disebut dengan bendungan air susu atau caked breast, sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan terkadang disertai dengan kenaikan suhu tubuh. Kelainan tersebut menggambarkan aliran vena normal yang berlebihan dan penggembungan limpatik dalam payudara yang merupakan prekusor regular untuk terjadinya laktasi. Keadaan ini bukan merupakan over destensi system lacteral oleh air susu.
2.      Mastitis
                   Inflamasi perinkimatos gladula mamae merupakan komplikasi antepartum yang jarang terjadi tetapi kadang-kadang dijumpai pada masa nifas dan laktasi. Gejala mastitis supuratif jarang terlihat sebelum akhir minggu pertama masa nifas dan umumnya baru di temukan setelah minggu ke 3 dan ke 4. Bendungan yang mencolok biasanya mendahului inplamasi dengan keluhan pertamanya berupa menggigil atau gejala tigor yang sebenarnya yang sering di ikuti oleh kenaikan suhu tubuh dan peningkatan frekuensi denyut nadi. Payudara kemudian menjadi serta kemerahan dan pasien mengeluarkan rasa nyeri.

D.    ASI EKSKLUSIF
            ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein laktosa dan garam organik yang disekresi oleh kelenjar payudara ibu dan merupakan makanan terbaik untuk bayi. Selain memenuhi segala kebutuhan makanan bayi baik gizi imunologi atau lainnya pemberian ASI memberikan kesempatan bagi ibu mencurahkan cinta kasih serta perlindungan kepada anaknya. Fungsi ini mungkin dapat dialihkan kepada ayah dan merupakan suatu kelebihan kaum wanita ASI eksklusif di berikan sejak umur 0 hari sampai 6 bulan.

IV.             MASALAH KB, GIZI, TANDA BAHAYA DAN SENAM MENYUSUI

A.    KB

Bidan berperan menjelaskan pada ibu dan suaminya tentang KB:
1.    Idealnya, pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan keluarganya. Akan tetapi petugas kesehatan mampu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
2.    Biasanya, wanita tidak akan menghasilkan  telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui (amenore laktasi). Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat digunakan sebelum haid pertama kali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko menggunakan cara ini adalah 2 % kehamilan.
3.    Penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman. Terutama apabila ibu sudah haid lagi.
4.      Sebelum menggunakan metode KB beberapa hal yang harus di jelaskan pada ibu, antara lain:
a.        Bagaimana dengan metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektivitasnya.
b.        Kelebihan dan kekurangannya.
c.         Efek samping
d.       Bagaimana menggunakan metode KB
e.        Kapan metode KB dapat digunakan untuk wanita pasca bersalin yang menyusui
5.      Jika seorang ibu atau pasangan telah memiliki metode KB tertentu ada baiknya ibu atau pasangan telah memiliki metode KB tertentu ada baiknya ibu atau pasangan berkunjung ulang 2 minggu kemudian untuk mengetahui apakah metode bekerja dengan baik.

B.     GIZI

            Bidan berperan dalam penyuluhan tentang gizi pada ibu dan suaminya selama masa nifas yang materinya meliputi:
1.      Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
2.       Makanan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
3.      Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
4.       Tablet zat besi bisa diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 6 – 8 minggu pasca persalinan.
5.        Minum kapsul vitamin A agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

C.     TANDA DAN BAHAYA

           Tanda bahaya merupakan hal yang sangat penting yang harus di sampaikan kepada ibu dan keluarga. Jika ia mengalami salah satu tanda bahaya di beriut atau lebih, maka secepatnya ia harus datang ke bidan atau dokter :
1.      Perdarahan pervagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan ganti pembalut 2 kali dalam setengah jam ).
2.      Pengeluaran pervagina yang berbau busuk (menyengat)
3.      Rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung
4.      Rasa sakit kepala yang terus menerus, nyeri epigastrik, atau masalah pengelihatan
5.      Pembengkakan di wajah atau di tangan
6.      Demam, muntah, rasa sakit waktu buang air kecil, atau jika merasa tidak enak badan
7.      Payudara berubah menjadi merah, panas, dan sakit
8.      Kehilangan nafsu makan dalam jangka waktu yang lama
9.      Rasa sakit, warna merah, pembengkakan kaki
10.  Merasa sedih atau tidak mampu mengasuh bayi atau dirinya sendiri
11.  Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah

D.    SENAM MENYUSUI

            Posisi ibu dan bayinya yang benar saat menyusui:
1.      Berbaring miring posisi ini adalah posisi yang amat baik untuk pemberian ASI yang pertama kali atau bila ibu merasa lelah atau merasakan nyeri.
2.      Duduk penting untuk memberi topangan atau sandaran pada punggung ibu dalam posisinya tegak lurus ini mungkin dapat dilakukan dengan duduk bersila diatas tempat tidur atau dilantai.
3.      Berbaring miring atau duduk (dengan punggung dan kaki di topang) akan membantu memposisikan payudara dan memberikan ruang untuk menggerakkan bayinya ke posisi yang baik.
4.       Badan bayi harus dihadapkan ke arah badan ibu dan mulut bayi dihadapkan ke putting susu ibu.
5.      Bayi sebaiknya ditopang pada bahunya sehingga posisi kepala yang agak tengadah dapat dipertahankan posisi bibir bawah paling sedikit 1,5 cm dari pangkal putting susu.
6.       Bayi harus ditempatkan dekat dan ibunya dikamar yang sama.
7.      Pemberian ASI pada bayi sesering mungkin, biasanya BBL ingin minum ASI setiap 2-3 jam atau 10-12 kali dalam 24 jam.
8.      Hanya berikan kolostrum dan ASI, makanan lain termasuk air dapat membuat bayi sakit dan menurunkan persediaan ASI.
9.       Hidari susu botol dan dot kompeng.
10.   Susu botol dan kompeng dan membuat bayi bingung dan membuatnya menolak putting ibunya atau tidak mengisap dengan baik.



















BAB III
MERUMUSKAN DIAGNOSA ATAU MASALAH POTENSIAL

Pada masalah ini, bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasaran rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan antisipasi dan bila memungkinkan akan di lakukan pencegahan. Sambil mengamati pasien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial benar-benar terjadi.
Berikut adalah beberapa diagnosa potensia yang mungkin ditemukan pada pasien nifas.

         I.            Gangguan Perkemihan

Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum. Segera setelah pascapartum kandung kemih,edema, mengalami kongesti, dan hipotonik, yang dapat menyebabkan overdistensi, pengosongan yang tidak lengkap, dan residu urine yang berlebihan kecuali perawatan diberikan untuk memastikan berkemih secara periodik. Uretra jarang mengalami obstruksi, tetapi mungkin tidak dapat dihindari akibat persalinan lama dengan kepala janin dalam panggul.
Efek persalinan pada kandung kemih dan uretra menghilang dalam 24 jam pertama pascapartum, kecuali wanita mengalami infeksi seluruh saluran kemih. Sekitar 40 % wanita pascapartum tidak mengalami proteinuria nonpatologis sejak segera setelah melahirkan hingga hari kedua pascapartum. Spesimen urine harus berupa urine yang diambil bersih atau kateterisasi, karena kontaminasi lokia juga akan menghasilkan preeklamsia.
Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum. Produksi urine mungkin lebih dari 3000 ml per hari. Diuresis adalah rute utama tubuh untuk membuang kelebihan cairan intertisial dan kelebihan volume darah. Hal ini merupakan penjelasan terhadap perpirasi yang cukup banyak yang dapat terjadi selama hari – hari pertama pascapartum.

     II.             Gangguan BAB

Defekasi atau buang air bersih harus ada dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rectum, mungkin akan terjadi febris.. Dengan diadakannya mobilisasi sedini – dininya, tidak jarang maslah ini dapat diatasi. Di tekankan bahwa wanita baru bersalin memang memerlukan istirahat dalam berjam – jam pertama postpartum, akan tetapi jika persalinan ibu serba normal tanpa kelainan, maka wanita yang baru bersalin itu bukan seorang penderita dan hendaknya jangan dirawat seperti seorang penderita

  III.            Gangguan Hubungan Seksual

Secara alami, sesudah melewati masa nifas kondisi organ reproduksi ibu sudah kembali normal. Tetapi tak jarang masih mengalami rasa sakit, ini disebabkan oleh proses pengembalian fungsi tubuh belum berlangsung sempurna seperti fungsi pembasahan vagina yang belum kembali seperti semula. Namun, bisa juga keluhan ini disebabkan karna kram otot, infeksi atau luka jahitan pada perineum yang masih dalam proses penyembuhan.                         
Rasa  nyeri pada saat sanggama atau dyspareunia. Pada kasus semacam ini ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi penyebab, yaitu :
1.      Terbentuknya jaringan baru pasca melahirkan karena proses penyembuhan
luka guntingan jalan lahir masih sensitif sehingga kondisi alat reproduksi belum kembali seperti semula.
2. Adanya infeksi, bisa disebabkan karena bakteri, virus, atau jamur.
3. Adanya penyakit dalam kandungan (tumor, dll).
4. Konsumsi jamu. Jamu-jamu ini mengandung zat-zat yang memiliki sifat
    astingents yang berakibat menghambat produksi cairan pelumas pada vagina
    saat seorang wanita terangsang seksual.
5. Faktor psikologis yaitu kecemasan yang berlebihan turut berperan, seperti:
a. Kurang siap secara mental untuk berhubungan seks (persepsi salah tentang
    seks, dll).
b. Adanya trauma masa lalu (fisik, seks).
c. Tipe kepribadian yang kurang fleksibel.
d. Komunikasi suami istri kurang baik .
Beberapa faktor lain diantaranya:
Ø  Beberapa wanita merasakan perannya sebagai orang tua sehingga timbul tekanan dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan perannya.
Ø  Karena adanya luka bekas episiotomi
Ø  Karena takut merusak keindahan tubuhnya
Ø  Kurangnya informasi tentang seks setelah melahirkan

Penyebab Apati Seksual pasca salin
1.    Stress dan Traumatik
Kelahiran bayi bisa menjadi pengalaman yang dapat menimbulkan traumatik terutama jika ibu belum dipersiapkan secukupnya. Banyak ibu yang mempunyan pengharapan yang tidak realistik tentang kelahiran. Misalnya : persalinan berlangsung lama atau persalinan yang memerlukan tindakan.
Adanya luka episiotomi, hal ini bila penjahitan luka episiotomi dilakukan dengan tidak benar maka akan mengakibatkan rasa nyeri dan rasa tidak nyaman di saat ibu berjalan dan duduk. Hal ini bisa berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan walaupun mungkin sayatan itu sendiri sudah sembuh.

2. Keletihan
Bagi seorang ibu yang baru dan belum berpengalaman selain harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasa, ia juga harus menghadapi bayinya yang tidak mau tidur, sering menangis atau bermasalah dalam menyusu. Maka ibu tentu menjadi letih dan lemas sehingga gairah seks pun merosot.

3. Depresi
Penyebabnya adalah keadaan tidak bersemangat akibat perasaan kelabu pasca persalinan. Perasaan ini biasanya terjadi dalam beberapa minggu setelah kelahiran bayi. Hal ini dapat terjadi depresi berat yang berupa : insomnia, anoreksia (hilangnya nafsu makan), halusinasi (membayangkan yang bukan-bukan) dan kecenderungan untuk menghilangkan kontak dengan kenyataan.

4. Keluhan yang timbul saat hubungan seksual pasca salin
§ Rasa Nyeri
Hal ini disebabkan fungsi pembasahan vagina yang belum kembali seperti semula, atau luka yang masih dalam proses penyembuhan.
§ Sensivitas berkurang
Karena persalinan normal merupakan trauma bagi vagina yaitu melebarnya otot-otot vagina.













BAB IV
KESIMPULAN

Masa nifas merupakan hal normal yang biasa terjadi pada ibu yang baru saja melahirkan. Beberapa perubahan yang terjadi pada ibu nifas meliputi perubahan rahim, Jalan lahir (servik,vulva dan vagina), darah nifas, payudara, sistem perkemihan, sistem pencernaan, peredaran darah, berat badan, suhu badan dan perubahan emosi.
Gangguan rasa nyeri pada masa nifas banyak dialami meskipun pada persalinan normal tanpa komplikasi. Nyeri setelah melahirkan disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus berurutan yang terjadi secara terus – menerus.
Infeksi nifas merupakan salah satu penyebab kematian ibu, infeksi yang mungkin terjadi adalah infeksi saluran kencing, infeksi pada genitalia, infeksi payudara, infeksi saluran pernafasan. Beberapa bakteri menyebabkan infeksi pasca persalinan.  Infeksi masa nifas merupakan penyebab tertinggi angka kematian ibu.
 Rasa cemas sering timbul pada ibu masa nifas karena perubahan fisik dan emosi masih menyesuaikan diri dengan kehadiran bayi. Periode ini disebut masa krisis karena terjadi banyak perubahan perilaku dan nilai peran. Tingkat kecemasan akan berbeda antara satu dengan yang lainnya
Bagi ibu yang belum mengetahui tentang masa nifas tentu akan merasa khawatir akan perubahan yang terjadi, oleh sebab itu penting bagi ibu memahami apa saja perubahan yang terjadi agar dapat menangani dan mengenali tanda bahaya secara dini.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar