Kamis, 29 Desember 2011

ASNEO OBSTRUKSI BILIARIS


BAB I OBSTRUKSI BILIARIS
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Cacat bawaan merupakan suatu keadaan cacat lahir pada neonatus yang tidak diinginkan kehadirannya oleh orangtua maupun petugas medis.
Laporan dari beberapa penelitian menungkapakan bahwa angka kejadian cacat bawaan dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Angka kematian bayi baik didalam maupun diluar negeri dari tahun ke tahun semakin lama semakin turun, tetapi penyebab kematian mulai bergeser. Sebelumnya penyebab kematian pada bayi sebagian besar disebabkan masalh sepsis, asfiksia, dan sindrom distress nafas, sednagkan akhir-akhir ini mulai bergeser pada masalah cacat bawaan.

B.      RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimanakah Obstruksi Biliaris itu?
    2. Bagaimanakah tanda dan gejala Obstruksi Biliaris itu?
    3. Bagaimanakah Klasifikasi dari Obstruksi Biliaris itu?
    4. Bagaimanakah Diagnosis Obstruksi Biliaris?
    5. Bagaimanakah pencegahan dan penatalaksanaan Obstruksi Biliaris?

C.      TUJUAN
Makalah ini dibuat dengan tujuan :
    1. Memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Neonatus.
    2. Agar mahasiswa memahami tentang Obstruksi Biliaris tersebut.
    3. Agar mahasiswa memahami tanda gejala dan penatalaksanaan Obstruksi Biliaris.
    4.  
BAB II
PEMBAHASAN
A.      DEFINISI
Ostruksi Biliaris adalah suatu kelainan bawaan dimana terjadi penyumbatan pada saluran empedu sehingga cairan empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus untuk dikeluarkan dalam feses (sebagai sterkobilin)
Antara hati dan usus halus terdapat saluran yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya empedu yang di produksi hati menuju usus. Jika saluran ini tersumbat, maka hal ini disebut sebagai obstruksi biliaris (Sarjadi, 2000).  Penyebab obstruksi biliaris adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir kedalam usus untuk dikeluarkan ( sebagai strekobilin ) didalam feses (Ngastiyah, 2005).

B.      ETIOLOGI
Penyebab ostruksi biliaris adalah tersumbatnya empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir dalam usus untuk dikeluarkan (sebagai strekobilin) didalam feses (Ngastiyah, 2005). Penyebab obstruksi biliaris juga disebabkan karena kelainan kongenital dan degenerasi sekunder.
Obstruksi duktus biliaris ini sering ditemukan, kemungkinan desebabkan:
1.    Batu empedu
2.    Karsinoma duktus biliaris
3.    Karsinoma kaput panksreas
4.    Radang duktus biliaris komunis yang menyebabkan striktura
5.    Ligasi yang tidak sengaja pada duktus biliaris komunis (Sarjadi, 2000)
Penderita tampak ikterik, akan sangat berat apabila obstruksi tidak dapat diatasi, bilirubin serum yang terkonjugasi meningkat, feses pucat dan urine berwarna gelap (pekat). Biasanya terdapat juga peningkatan kadar alkalin fosfate serum terutama transaminase. (Sarjadi,2000)
Apabila terjadi obstruksi biliaris persisten, empedu yang terbendung dapat mengalami infeksi, menimbulkan kolangitis dan abses hepar. Kekurangan empedu dalam usus halus mempengaruhi absorpsi lemak dan zat yang terlarut dalam lemak (misalnya beberapa jenis vitamin) (Sarjadi,2000).
C.      PATOFISIOLOGI
Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelainan pada dinding misalnya ada tumor, atau penyempitan karena trauma(iatrogenik). Batu empedu dan cacing askariasis sering dijumpai sebagai penyebab sumbatan didalam lumen saluran. Pankreatitis, tumor caput pankreas, tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas di daerah ligamentum hepato duodenale dapat menekan saluran empedu dari luar menimbulkan gangguan aliran empedu. (Reskoprodjo, 1995)
            Beberapa keadaan yang jarang dijumpai sebagai penyebab sumbatan antara lain kista koledokus, abses amuba pada lokasi tertentu, di ventrikel duodenum dan striktur sfingter papila vater. (Reskoprojo,1995)
            Kurangnya bilirubin dalam saluran usus bertanggung jawab atas tinja pucat biasanya dikaitkan dengan obstruksi empedu. Penyebab gatal (pruritus) yang berhubungan dengan obstruksi empedu tidak jelas. Sebagian percaya mungkin berhubungan dengan akumulasi asam empedu di kulit. Lain menyarankan mungkin berkaitan dengan pelepasan opioid endogen (Judarwanto,2009).
            Penyebab obstruksi biliaris adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir kedalam usus untuk dikeluarkan ( sebagai strekobilin ) didalam feses. (Ngastiyah, 2005)
Kemungkinan penyebab saluran empedu tersumbat meliputi:
1.    Kista dari saluran empedu
2.    Lymp node Diperbesar dalam porta hepatis
3.     Batu empedu
4.    Peradangan dari saluran-saluran empedu
5.    Trauma cedera termasuk dari operasi kandung empedu
6.    Tumor dari saluran-saluran empedu atau pankreas
7.    tumor yang telah menyebar ke sistem empedu (Zieve David,2009)

D.      TANDA DAN GEJALA
1.    Gambaran klinis gejala mulai terlihat pada akhir minggu pertama yakni bayi ikterus.
2.    Kemudian feses bayi berwarna putih agak keabu-abuan dan liat seperti dempul (berwarna putih ke abu-abuan).
3.    Urine menjadi lebih tua karena mengandung urobilinogen
4.    Perut sakit di sisi kanan atas    
5.    Demam
6.    Mual dan muntah (Zieve David,2009)
7.    Terjadi hepatomegali

E.       KLASIFIKASI
Secara empiris dapat dikelompokkan dalam 2 tipe:
a.       Tipe yang dapat dioperasi (yang dapat diperbaiki). Jika kelainan atau sumbatan terdapat dibagian distalnya
b.      Tipe yang tidak dapat di operasi. Jika kelainan atau sumbatan terdapat bagian atas porta hepatic, tetapi akhir-akhir ini dapat dipertimbangkan untuk suatu operasi porto enterostoma hati radikal.
Macam-macam Obstruksi Biliaris adalah:
a.       Penyakit Duktus Biliaris Intrahepatik:
Obstruksi biliaris dapat disebabkan oleh penyakit duktus biliaris intrahepatik, seperti :
1)      Atresia Biliaris
Merupakan suatu kondisi kelainan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal.
2)      Sirosis biliaris primer
Secara histologis kerusakan duktus tampak dikelilingi infiltrasi limfosit yang padat dan sering timbul granuloma.
3)      Kolangitis sklerosing
Merupakan radang kronis yang mengenai duktus biliaris intrahepatik.
4)      Reaksi obat kolestatik
Obat-obatan long-acting lebih menyebabkan kerusakan hepar dibandingkan dengan obat-obatan short-acting (Sarjadi, 2000).
b. Obstruksi Biliaris Akut
Obstruksi akut duktus biliaris utama pada umumnya disebabkan oleh batu empedu. Secara klinis akan menimbulkan nyeri kolik dan ikterus. Apabila kemudian sering terjadi infeksi pada traktus biliaris, duktus akan meradang (kolangitis) dan timbul demam. Kolangitis dapat belanjut menjadi abses hepar (Sarjadi, 2000).
Obstuksi biliaris yang berulang menimbulkan fibrosis traktus portal dan regenerasi noduler sel hepar. Keadaan ini disebut sirosis biliaris sekunder (Sarjadi, 2000).
F.       DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, adanya tanda ikterus atau kuning pada kulit, pada mata dan di bawah lidah. Pada pemeriksaan perut, hati teraba membesar kadang juga disertai limfa yang membesar.
·           Pemeriksaan Laboratorium dan Imaging
1.       Pemeriksaan darah (terdapat peningkatan kadar bilirubin)
Pemeriksaan darah dilakukan pemeriksaan fungsi hati khususnya terdapat peningkatan kadar bilirubin direk. Disamping itu dilakukan pemeriksaan albumin, SGOT, SGPT, alkali fosfatase, GGT. Dan faktor pembekuan darah.
2.       Rontgen perut (tampak hati membesar)
3.       Kolangiogram atau kolangiografi intraoperatif
Yaitu dengan memasukkan cairan tertentu ke jaringan empedu untuk mengetahui kondisi saluran empedu. Pemeriksaan kolangiogram intraoperatif dilakukan dengan visualisasi langsung untuk mengetahui patensi saluran bilier sebelum dilakukan operasi Kasai.
4.       Breath test
Dilakukan untuk mengukur kemampuan hati dalam memetabolisir sejumlah obat.  Obat-obat tersebut ditandai dengan perunut radioaktif, diberikan per-oral (ditelan) maupunintravena (melalui pembuluh darah). 
Banyaknya radioaktivitas dalam pernafasan penderita menunjukkan banyaknya obat yang dimetabolisir oleh hati.
5.       USG
Menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan hati, kandung empedu dan saluran empedu. Pemeriksaan ini bagus untuk mengetahui kelainan struktural, seperti tumor. USG merupakan pemeriksaan paling murah, paling aman dan paling peka untuk memberikan gambaran dari kandung empedu dan saluran empedu. Dengan USG, dokter dengan mudah bisa mengetahui adanya batu empedu di dalam kandung empedu. USG dengan mudah membedakan sakit kuning (jaundice) yang disebabkan oleh penyumbatan saluran empedu dari sakit kuning yang disebabkan oleh kelainan fungsi sel hati. USG Doppler bisa digunakan untuk menunjukkan aliran darah dalam pembuluh darah di hati. USG juga bisa digunakan sebagai penuntun pada saat memasukkan jarum untuk mendapatkan contoh jaringan biopsi.
6.       Imaging radionuklida (radioisotop)
Menggunakan bahan yang mengandung perunut radioaktif, yang disuntikkan ke dalam tubuh dan diikat oleh organ tertentu. Radioaktivitas dilihat dengan kamera sinar gamma yang dipasangkan pada sebuah komputer.
7.       Skening hati
Merupakan penggambaran radionuklida yang menggunakan substansi radioaktif, yang diikat oleh sel-sel hati.
8.       Koleskintigrafi
Menggunakan zat radioaktif yang akan dibuang oleh hati ke dalam saluran empedu. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui peradangan akut dari kandung empedu (kolesistitis).
9.       CT scan
Bisa memberikan gambaran hati yang sempurna dan terutama digunakan untuk mencari tumor. Pemeriksaan ini bisa menemukan kelainan yang difus (tersebar), seperti perlemakan hati (fatty liver) dan jaringan hati yang menebal secara abnormal (hemokromatosis). Tetapi karena menggunakan sinar X dan biayanya mahal, pemeriksaan ini tidak banyak digunakan.
10.   MRI
Memberikan gambaran yang sempurna, mirip dengan CT scan. Pemeriksaan ini lebih mahal dari CT scan, membutuhkan waktu lebih lama dan penderita harus berbaring dalam ruangan yang sempit, menyebabkan beberapa penderita mengalami klaustrofobia (takut akan tempat sempit).
11.   Kolangiopankreatografi endoskopik retrograd
Merupakan suatu pemeriksaan dimana suatu endoskopi dimasukkan ke dalam mulut, melewati lambung dan usus dua belas jari, menuju ke saluran empedu. Suatu zat radiopak kemudian disuntikkan ke dalam saluran empedu dan diambil foto rontgen dari saluran empedu. Pemeriksaan ini menyebabkan peradangan pada pankreas (pankreatitis) pada 3-5% penderita.
12.   Kolangiografi transhepatik perkutaneus
Menggunakan jarum panjang yang dimasukkan melalui kulit ke dalam hati, kemudian disuntikkan zat radiopak ke dalam salah satu dari saluran empedu. Bisa digunakan USG untuk menuntun masuknya jarum. Rontgen secara jelas menunjukkan saluran empedu, terutama penyumbatan di dalam hati.
13.   Kolangiografi operatif
Menggunakan zat radiopak yang bisa dilihat pada rontgen. Selama suatu pembedahan, zat tersebut disuntikkan secara langsung kedalam saluran empedu. Foto rontgen akan menunjukkan gambaran yang jelas dari saluran empedu.
14.   Foto rontgen sederhana
Sering bisa menunjukkan suatu batu empedu yang berkapur.
15.   Pemeriksaan Biopsi hati
Untuk melihat struktu organ hati apakah terdapat sirosis hati atau kompilkasi lainnya. Laparotomi biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan.
16.   Laparotomi (biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan). (Indonesia, USA & internasional berkumpul, 2000)

G.     PENATALAKSANAAN
Kuning pada obstirksi biliaris berbeda dengan kuning (ikterik) fisiologis pada bayi baru lahir pada umumnya. Ynang dapat membedakan dengan mudah yakni feses pada bayi obstruksi seperti dempul ( putih ke abu-abuan.)
Pada dasarnya penatalaksanaan pasien dengan obstruksi biliaris bertujuan untuk menghilangkan penyebab sumbatan atau mengalihkan aliran empedu. Tindakan tersebut dapat berupa tindakan pembedahan misalnya pengangkatan batu atau reseksi tumor. Dapat pula upaya untuk menghilangkan sumbatan dengan tindakan endoskopi baik melalui papila vater atau dengan laparoskopi. (Reksoprodjo, 1995)
            Bila tindakan pembedahan tidak mungkin dilakukan untuk menghilangkan penyebab sumbatan, dilakukan tindakan drenase yang bertujuan agar empedu yang terhambat dapat dialirkan. Drenase dapat dilakukan keluar tubuh misalnya dengan pemasangan pipa naso bilier, pipa T pada duktus koledokus, atau kolesistostomi. Drenase interna dapat dilakukan dengan membuat pintasan bilio digestif. Drenase interna ini dapat berupa kelesisto-jejunostomi, koledoko-duodenostomi, koledoko-jejunustomi atau hepatiko-jejunustomi. (Reksoprodjo, 1995).
                Penanganan drenase bersifat sementara ( bertahan hanya sementara). Pada penanganan dernase memiliki factor resiko seperti infeksi.
                Prognosis bayi yang melakukan operasi obstruksi biliaris yakni 16%, dan 6,3% dapat sembuh.
1)          Penatalaksanaan Keperawatan
Pertahankan kesehatan bayi (pemberian makan yang cukup gizi sesuai dengan kebutuhan, serta menghindarkan kontak infeksi). Berikan penjelasan kepada orang tua bahwa keadaan kuning pada bayinya berbeda dengan bayi lain yang kuning karena hiperbilirubinemia biasa yang dapat hanya dengan terapi sinar atau terapi lain. Pada bayi ini perlu tindakan bedah karena terdapatnya penyumbatan ( Ngastiyah, 2005).
2)      Penatalaksanaan Medisnya ialah dengan operasi ( Ngastiyah, 2005).

H.      PENCEGAHAN
Obstruksi biliaris dapat dicegah saat ibu hamil. Dengan nutrisi yang adekuat pada ibu hamil, dapat menekan munculnya masalah obstruksi biliaris pada bayi yang akan dilahirkan.
Dapat mengetahui setiap faktor risiko yang dimiliki, sehingga bisa mendapatkan prompt diagnosis dan pengobatan jika saluran empedu tersumbat. Penyumbatan itu sendiri tidak dapat dicegah. (Attasaranya S, Fogel EL,2008).
            Dalam hal ini bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi setiap faktor resiko terjadinya obstruksi biliaris (penyumbatan saluran empedu), dengan keadaan fisik yang menunjukan  anak tampak ikterik, feses pucat dan urine berwarna gelap (pekat). (Sarjadi,2000)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
                Ostruksi Biliaris adalah suatu kelainan bawaan dimana terjadi penyumbatan pada saluran empedu sehingga cairan empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus untuk dikeluarkan dalam feses (sebagai sterkobilin)
Gejala Obstruksi Biliaris antara lain: Gambaran klinis gejala mulai terlihat pada akhir minggu pertama yakni bayi ikterus, feses bayi berwarna putih agak keabu-abuan dan liat seperti dempul, Urine menjadi lebih tua karena mengandung urobilinogen, Perut sakit di sisi kanan atas, Demam, Mual dan muntah, Terjadi hepatomegali.
Yang dilakukan bidan terhadap penderita Ostruksi Biliaris antara lain:Memberikan penatalaksanaan seperti bayi normal lainnya, seperti nutrisi adekuat, pencegahan hipotermi, pencegahan infeksi, dll, Lakukan konseling pada orang tua agar mereka menyadari bahwa kuning yang dialami bayinya bukan kuning biasa tetapi disebabkan karena adanya penyumbatan pada saluran empedu, Lakukan inform consent dan inform choise untuk dilakukan rujukan
B. SARAN
Bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi setiap faktor resiko terjadinya obstruksi biliaris (penyumbatan saluran empedu), dengan keadaan fisik yang menunjukan  anak tampak ikterik, feses pucat dan urine berwarna gelap (pekat).
DAFTAR PUSTAKA
http://materikuliahkebidanan.files.wordpress.com/2010/02/kelompok-lima.pdf


DIII Kebidanan FK UNS semester 3 2010

ASNEO HIRSCHPRUNG


BAB 1 HIRSCHPRUNG
PENDAHULUAN
Bayi Anda sulit BAB atau sembelit terus menerus? Hati-hati, jangan-jangan ada kelainan pada usus besar, apalagi kalo diikuti perut kembung. Ada kemungkinan terkena penyakit Hirschprung, sesuai nama penemunya yakni Harold Hirschprung pada tahun 1887 di Jerman. Kadang disebut juga dengan penyakit MEGA COLON. Menurut beberapa literatur, penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir. Perhatikan, apabila pada awal kelahiran, bayi anda tidak mengeluarkan kotoran atau tinja ada kemungkinan terkena kelainan ini. Penyakit ini sebetulnya banyak dialami oleh anak laki-laki di bandingkan perempuan, perbandingan sekitar 3,8 :1. Sedangkan kasus Hirschprung sendiri ditemukan 1:5000 biasanya. Kelainan ini dapat diketahui dibawah usia setahun.
APA & KENAPA ITU?
Menurut Dokter, kelainan hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Syaraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau kalopun ada sedikit sekali. Namun yang jelas kelainan ini akan membuat BAB bayi tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya syaraf yang dapat mendorong kotoran keluar dari anus. Nah, kotoran akan menumpuk terus di bagian bawah, hingga menyebabkan pembesaran pada usus dan juga kotoran menjadi keras sehingga bayi tidak dapat BAB. Biasanya bayi akan bisa BAB karena adanya tekanan dari makanan setelah daya tampung di usus penuh. Tetapi hal ini jelas tidaklah baik bagi usus si bayi. Penumpukan yang berminggu bahkan bulan mungkin akan menimbulkan pembusukan yang lama kelamaan dapat menyebabkan adanya radang usus bahkan mungkin kanker usus. Bahkan kadang karena parahnya tanpa disadari bayi akan mengeluarkan cairan dari lubang anus yang sangat bau. Kotoran atau tinja penderita ini biasanya berwarna gelap bahkan hitam. Dan biasanya apabila usus besar sudah terlalu besar, maka kotoraya pun akan besar sekali, mungkin melebihi orang dewasa. Ciri lain hirschprung adalah perut bayi anda akan kelihatan besar dan kembung serta kentutnyapun baunya sangat busuk. Selain itu juga riwayat BABnya selalu buruk atau tidak normal.
APA YANG MEMBEDAKAN DENGAN SEMBELIT?
Nah seperti pembahasan beberapa hari lalu, Hirschprung ini berbeda dengan sembelit biasa. Walopun efeknya sama alias sama sulit BAB alias sembelit. Pada anak yang terkena kelainan ini anak tak bisa BAB terus-menerus. Biasanya bisa BAB setelah lebih dari 3 hari bahkan satu minggu. Sedang pada sembelit biasa, biasanya anak sulit BAB ketika misalnya kekurangan asupan yang mengandung serat seperti buah-buahan dan sayuran. Nah pada Hirschprung ini kecenderungaya BAB akan sulit terus, jarang bagus atau terhambat terus. Kelainan ini bisa di deteksi sejak lahir. Bayi normal, dalam waktu 24 jam akan BAB untuk pertama kalinya, sedang pada bayi yang punya kecenderungan kelainan ini (Hirschprung) biasanya tidak keluar dalam waktu itu. Pemberian pencahar pada bayi dengan sembelit biasa akan menyebabkan reaksi langsung. Kotoran akan keluar tidak lama setelah itu, dan biasanya keras. Namun pada bayi dengan kelainan hirschsprung, pemberian obat pencahar atau asupan yang mengandung serat seperti pepaya, mangga, biasanya tidak menimbulkan efek secara langsung atau biasa saja. Terutama dengan kasus kelainan usus yang sudah cukup panjang. Akan tetapi apabila kelainan masih cukup pendek misal 1 cm biasanya bisa juga mengeluarkan kotoran. Namun biasanya terlihat lembek. Untuk memastikan adanya kelainan ini dilakukan pemeriksaan dengan barium enema melalui anus. Pemeriksaan ini akan memperlihatkan sejauh mana penyempitan usus terjadi dan seberapa panjang kerusakan usus yang terjadi. Bisa juga mengetahui gejala awalnya dengan memasukkan sedikit jari kita ke anusnya. Jika keluar, kotoraya akan menyemprot. Selain itu, jari yang dimasukkan pun akan dijepitnya oleh lubang anus tadi. Nah, gejala seperti itu biasanya hirschsprung.
BAB II
ISI
A.      Pengertian Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung disebut juga kongenital aganglionik megakolon. Penyakit Hirschsprung merupakan keadaan usus besar (kolon) yang tidak mempunyai persarafan (aganglionik) atau tidak adanya bawaan dari persarafan parasimpatis dari usus distal. Jadi, karena ada bagian dari usus besar (mulai dari anus kearah atas) yang tidak mempunyai persarafan (ganglion), maka terjadi “kelumpuhan” usus besar dalam menjalanakan fungsinya sehingga usus menjadi membesar (megakolon). Panjang usus besar yang terkena berbeda-beda untuk setiap individu.
Selain itu, penyakit hisprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang paling sering pada neonatus.

B.      Etiologi Hirschsprung
Menurut Betz, Cecily. L (2002) penyebab Hirschsprung sebenarnya tidak diketahui tetapi penyakit ini diduga karena faktor-faktor genetik dan faktor lingkungan. Penyakit ini sering terjadi pada anak dengan Down Syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.
Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke arah proksimal, 70 % terbatas di daerah rektosigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 % dapat mengenai seluruh usus sampai pilorus.
Kelainan Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya.Syaraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau kalopun ada sedikit sekali. Namun yang jelas kelainan ini akan membuat BAB bayi tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya syaraf yang dapat mendorong kotoran keluar dari anus . Kotoran akan menumpuk terus di bagianbawah, hingga menyebabkan pembesaran pada usus dan juga kotoran menjadi keras sehingga bayi tidak dapat BAB. Biasanya bayi akan bisa BAB karena adanya tekanan dari makanan setelah daya tampung di usus penuh. Tetapi hal ini jelas tidaklah baik bagi usus si bayi. Penumpukan yang berminggu bahkan bulan mungkin akan menimbulkan pembusukan yang lama kelamaan dapat menyebabkan adanya radang usus bahkan mungkin kanker usus. Bahkan kadang karena parahnya tanpa disadari bayi akan mengeluarkan cairan dari lubang anus yang sangat bau. Kotoran atau tinja penderita ini biasanya berwarna gelap bahkan hitam

C.      Gejala Hirschsprung
PenyakitHirschsprung 4 kali lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki. Penyakit ini kadang disertai dengan kelainan bawaan lainnya, misalnya sindroma Down. Gejala-gejala yang mungkin terjadi antara lain :
·         Segera setelah lahir, bayi tidak dapat mengeluarkan mekonium (tinja pertama pada bayi baru lahir)
·         tidakdapatbuang air besar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir
·         perut menggembung
·         Muntah
·         Diare encer (pada bayi baru lahir)
·         Berat badan tidak bertambah
·         Malabsorbsi
·         Pada anak yang lebih besar, gejalanya adalah sembelit menahun, perut menggembung dan gangguan pertumbuhan.

D.      Diagnosa Hirschsprung
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
1.       Pemeriksaan yang biasa dilakukan: Rontgen perut (menunjukkan pelebaran usus besar yang terisi oleh gas dan tinja)
2.       Barium enema (dengan memasukkan suatu cairan zat radioaktif melalui anus, sehingga nantinya dapat terlihat jelas di roentgen sampai sejauh manakah usus besar yang terkena penyakit ini)
3.       Manometri anus (pengukuran tekanan sfingter anus dengan cara mengembangkan balon di dalam rectum)
4.       Biopsi rectum (menunjukkan tidak adanya ganglion sel-sel saraf).
E.       Terapi Hirschsprung
Untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan usus, segera dilakukan kolostomis ementara.Kolostomi adalah pembuatan lubang pada dinding perut yang disambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan bagian usus yang terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan atau lebih. Jika terjadi perforasi (perlubangan usus) atau enterokolitis, diberikan antibiotik.
Secara klinis menurut dokter, bagian usus yang tak ada persarafannya ini harus dibuang lewat operasi. Operasi biasanya dilakukan dua kali. Pertama, dibuang usus yang tak ada persarafannya. Kedua, kalau usus bisa ditarik ke bawah, langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dilakukan operasi ke dinding perut, yang disebut dengan kolostomi, yaitu dibuat lubang ke dinding perut. Jadi bayi akan BAB lewat lubang tersebut. Nanti kalau ususnya sudahcukup panjang, bisa dioperasi lagi untuk diturunkan dan disambung langsung ke anus. Sayang sekali kadang proses ini cukup memakan waktu lebih dari 3 bulan, bahkan mungkin hingga 6-12 bulan. Setelah operasi biasanya BAB bayi akan normal kembali, kecuali kasus tertentu missal karena kondisi yang sudah terlalu parah.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Hirschsprung adalah suatu bentuk penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat lemahnya pergerakan usus karena sebagian usus besar tidak mempunyai sarafyang mengendalikan kontraksi ototnya. Hirschsprung merupakan kelainan bawaan.
Kelainan Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus diatasnya. Saraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar dan menyempit seperti biasanya, tidak ada sama sekali atau kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali. Ada juga yang menduga kelainan ini terjadi karena faktor genetik,sering terjadi pada anak dengan Down Syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.
Biasanya bayi baru lahir akan mengeluarkan tinja pertamanya (mekonium) dalam 24 jam pertama. Namun pada bayi yang menderita panyakit Hirschsprung, tinja akan keluar terlambat atau bahkan tidak dapat keluar sama sekali.selain itu perut bayi juga akan terlihat menggembung disertai muntah.
Komplikasi yang dapat di timbulkan dari kelainan Hirschsprung misalnya seperti, Enterokolitis nekrotikans, pneumatosis usus, abses perikolon, perforasi dan septikemia.
Untuk pengobatannya, secara klinis manurut dokter, bagian usus yang tak ada persarafannya ini harus dibuang lewat operasi. Operasi biasanya dilakukan dua kali. Pertama, dibuang usus yang tak ada persarafannya. Kedua, kalau usus bisa ditarik ke bawah, langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dilakukan operasi ke dinding perut, yang disebut dengan kolostomi, yaitu dibuat lubang ke dinding perut. Jadi bayi akan BAB lewat lubang tersebut. Nanti kalau ususnya sudahcukup panjang, bisa dioperasi lagi untuk diturunkan dan disambung langsung ke anus.
3.2 SARAN
Mahasiswa kwbidanan diharapkan mengetahui dan memahami barbagai macam kelainan konginetal yang mungkin dapat terjadi pada neonatus karena merupakan salah satu materi yang harus dikuasai berkaitan dengan profesinya nanti. Selain itu, agar dapat memberikan asuhan kebidanan yang tepat pada neonatus untuk meminimalkan resiko serta memperkecil agar tidak terjadi komplikasi yang lebih parah. Dengan memahaminya tentu akan lebih mudah dalam menerapkannya dalan kehidupan secara nyata.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_Hirschsprung diaksespada 17oktober 2011 pukul   17.05 WIB
Kuzemko, Jan, 1995, Pemeriksaan Klinis Anak, alih bahasa Petrus Andrianto, cetakan III, EGC, Jakarta.
Mansjoer, dkk. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, ed.3, Media Aesculapius, Jakarta.
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Alimul, A.Aziz,2008, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan, Salemba Medika, Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtHY3YuM2cl98oJAUWanot_d20KEArKQxtsM-NI2XZrz3A7SKaPv8Kl-CUXdJfepc3IZekD8P7QWwvuT653XkVEo3RQgM37qpZTJQdX1N6oCVNtg-Yq445RSd9UgrSCgw8oQaYU4EADOE/s1600/hisprung.jpegLampiran Gambar
      
Hisprung (1)